FMDKI.ORG, D.I YOGYAKARTA-Forum Muslimah Dakwah Kampus Indonesia (FMDKI) Daerah Istimewa Yogyakarta, kembali menggelar Kajian Ramadan Ilmiah Muslimah (KARIMAH), Sabtu (19/3/22).
Kegiatan yang bertajuk “Ramadhan Kabarkan Surga yang Dirindu (The Best Time to Muhasabah)” ini dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting.
Kajian Ramadan yang menghadirkan 77 partisipan ini tak hanya dihadiri oleh peserta secara individu, antusias tersebut juga nampak melalui ‘nonton bareng’ di Pondok Pesantren Godean.
Nurul Islam Miyati, selaku ketua FMDKI D.I Yogjakarta berharap agar kegiatan KARIMAH ini bisa menjadi wasilah bagi muslimah kampus maupun umum untuk mengetahui dan memahami tentang fiqih dan amaliyah Ramadan, sehingga nantinya dapat memaksimalkan diri dalam meraih keutamaan-keutamaan di bulan Ramadan.
“Tentu mengetahui keutamaan saja rasanya masih belum cukup, bila belum diiringi dengan muhasabah. Nah dalam materi yang disampaikan oleh pemateri KARIMAH ini harapannya bisa mengantarkan peserta untuk menjadikan momen Ramadan sebagai evaluasi diri, sehingga muslimah bisa memaksimalkan dalam mengejar keutamaan-keutamaan bukan karena sebuah kewajiban, namun Lillah yang diiringi dengan kesadaran untuk terus memperbaiki diri,” ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, panitia menghadirkan Ustazah Lulu Choriroh, da’iyah dan Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidz Qur’an Al-Madinah Godean selaku pemateri pertama.
Ustazah Lulu dalam materinya memaparkan persoalan fikih seputar Ramadan dan realita kondisi umat muslim yang menyambut Ramadan dengan ritual-ritual yang sudah menjadi kebiasaan dan kini dianggap lumrah.
“Ada yang kemudian punya ritual-ritual tertentu yang itu dianggap sebagai salah satu cara yang bisa mewakili untuk bisa menyambut bulan Ramadan yang sejatinya, sebenarnya tidak sesuai dengan yang di syariatkan,” ujarnya.
Dalam pemaparan materi kedua pengajar pondok mahasiswi Daar Maryam, Ustadzah Suri Suhendari menyampaikan bahwa bulan Ramadan merupakan momentum terbaik untuk bermuhasabah dimulai dari jiwa dan perbuatan yang telah dilakukan selama ini.
“Untuk apa, dan siapa kita melakukan perbuatan itu? Apakah dia akan bernilai di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala? atau jangan-jangan amalan yang dilakukan sebelum-sebelum ini tidak bernilai di sisi Allah karena ada hal-hal yang mungkin di dalamnya menjadi penghalang diterimanya amal kita,” ungkapnya.
Reporter: Muspidayani
Editor: Sinta Kasim
