FMDKI.ORG, MAKASSAR – Lingkar Dakwah Mahasiswa Indonesia (LIDMI) bersama Forum Muslimah Dakwah kampus Indonesia (FMDKI) sukses selenggarakan Talkshow Pemuda Perubahan, Ahad (11/12/22).
Acara yang berlangsung di Aula Samsudin Daeng Mangawing Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (Unhas) ini juga terselenggara berkat kerjasama dengan Unit Kelembagaan Mahasiswa Lembaga Dakwah Kampus Mahasiswa Pecinta Mushalla Unhas dan Keluarga Mahasiswa Muslim Politeknik Indonesia.
Kegiatan tersebut mengusung tema “Muda, Berkarya, dan Bermakna” yang dihadiri 178 peserta dari kalangan mahasiswa dan mahasiswi sekota Makassar dari berbagai kampus dan jurusan baik dari UNM, UIN, PNUP, Unhas dan lainnya.
Ketua PW LIDMI Sulsel, Muhammad Ikram dalam sambutannya berharap bahwa gerakan-gerakan perbaikan anak muda baik pencerahan dan gerakan kongkrit, harus terus diadakan agar dapat memberikan manfaat yang luas kepada para mahasiswa dan pemuda.
“Disinilah pentingnya kita berkolaborasi, saling membangun sinergi antar setiap elemen yang ada, secara khusus di lembaga-lembaga dakwah yang ada di kampus. Supaya kegiatan-kegiatan ini selalu kita syiarkan dengan baik dan semakin dimasifkan. Sehingga semakin besar, semakin menggaung dan semakin memberikan manfaat yang luas kepada mahasiswa serta secara umum kepada pemuda,” katanya.
Sedana dengan hal tersebut, Ketua Umum PP LIDMI Asrullah juga menegaskan, bahwa perbaikan Indonesia harus dimulai dengan memperbaiki generasi mudanya.
“Kalau ingin melihat Indonesia baik kita harus mulai dari improvement generasi mudanya. Sehingga kegiatan seperti ini penting dilakukan untuk memotivasi, menggelorakan semangat dan meningkatkan kualitas generasi pemuda,” tegasnya.

Talkshow Pemuda Perubahan kali ini hadirkan Ustad Ikhwan Jalil sebagai pembicara yang menyebutkan pentingnya memanfaatkan masa muda dengan sebaik-baiknya dan masa muda harus berkarya agar punya makna.
“Masa muda perlu untuk dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Maka bagus sekali tema dari pertemuan kita kali ini yang muda yang berkarya, karena dia berkarya dia punya makna,” ujarnya.
Kadidat Doktor University of Minnesota USA juga menerangkan bahwa secara personal, pemuda harus punya strategi kehidupan untuknya berkarya dengan bakatnya dan minatnya.
“Secara personal setiap pemuda harus memposisikan dirinya memiliki strategi kehidupan yang telah dirancangnya, untuk dia berkarya dari sisi yang disanggupinya, yang menjadi kecenderungannya, yang jadi bakatnya dan minatnya,” ungkapnya.
Pemuda dalam menjalani kehidupannya, apakah dia mahasiswa atau bukan. Maka mereka harus menghirup nafas perjuangan, harus mampu mendefinisikan perannya dan memberi kontribusi yang nyata terhadap umat dan bangsa.
“Kalau anda seorang mahasiswa, setelah anda menghirup nafas perjuangan dalam setiap tapak dan pergerakan bersama para mahasiswa dan pemuda yang lainnya. Anda rasakan bahwa anda adalah bagian dari pada ummat pejuang ini, yang hari ini demikian banyak tertuduh, tertipu, tersudut dan terdzolimi, maka anda harus mendefinisikan dari sisi mana saya akan memberi kontribusi pada perjuangan ini,” pungkasnya.
Ustadz Ikhwan menegaskan bahwa melakukan peran-peran sederhana akan jauh lebih berarti dibandingkan narasi besar yang tidak bermakna. Selain itu pemuda harus memiliki jiwa proaktif dan inisiatif dalam melakukan sebuah gerakan perubahan.
“Islam sangat membuka ruang kepada kita semua untuk memberikan kontribusi baik kecil dan besar. Pemuda harus memiliki inisiatif, tidak menunggu arahan, selalu proaktif. Dimana ada ruang kosong, disitulah para pemuda masuk mengambil peran dan melakukan perjuangan. Menjadi lokomotif gerakan perubahan,” tuturnya.
Pengurus MUI Sulsel tersebut mengutip perkataan Syeikh Salman Al Audah bahwa kata kunci dari eksistensi adalah kemampuan kita untuk beradaptasi dalam setiap kondisi dan kita bisa memerankan peran kita dalam setiap kondisi.
Laporan: LIDMI Media Center
Editor: Sinta Kasim
