FMDKI.OR.ID, YOGYAKARTA – Forum Muslimah Dakwah Kampus Indonesia (FMDKI) Daerah Yogyakarta gelar Kajian Ramadhan Ilmiah Muslimah (KARIMAH) bertemakan “Ramadhan Full of Power (Memetik Hikmah Perjuangan Palestina)”, Ahad (25/02/2024).
Berlangsung secara tatap muka dengan dihadiri 73 peserta, Karimah terlaksana di Masjid Al-Mujahidin Universitas Negeri Yogyakarta.
Puput selaku Ketua FMDKI Yogyakarta dalam sambutannya menyampaikan tujuan diadakannya Karimah, di mana Karimah merupakan kegiatan yang bertujuan untuk memberikan pemahaman keislaman tentang ibadah di bulan Ramadan. Selain itu, Karimah juga menjadi event untuk menyambut bulan suci Ramadan dan sarana untuk merefleksi kualitas ibadah yang sudah dijalani selama Ramadan kemarin dengan melihat perjuangan muslimin Palestina.
“Karimah tahun ini, kita sama-sama belajar dari saudara-saudara kita di Palestina sana. Setelah memahami perjuangan pejuang Palestina, harapannya kita menjadi memiliki semangat baru untuk terus berjuang dan bersiap menjalani Ramadan,” ujarnya.
Acara ini menyajikan dua materi, yang berjudul “Ramadhan, Bulan Para Pejuang” diisi oleh Ustazah Nurul Kumala Sari, S.T., M.M, kemudian dilanjutkan Sarita M. Matulu, M.Psi. “Ramadhan Tahun Ini (Refleksi Spirit Perjuangan dari Bumi Palestina)”.
Ustazah Nurul Kumala Sari, pada pemaparannya menjelaskan kemuliaan yang ada di bulan Ramadan.
“Puasa kaum muslimin berbeda dengan orang lain karena ada motivasi atau keutamaan di bulan Ramadan. Mengapa Ramadan begitu mulia? Karena mendapatkan ampunan dan juga terdapat malam yang lebih baik dari 1000 bulan,” jelasnya.
Trainer Muslimah itu juga menyampaikan hikmah yang dapat dipetik di bulan Ramadan.
“Hikmah Ramadan yaitu menumbuhkan rasa empati, menjaga kesehatan moral dan fisik, membangun solidaritas sosial,” sambungnya.
Selanjutnya materi kedua, Sarita M. Matulu memaparkan tentang ketangguhan muslim Palestina atas apa yang tengah dihadapi saat ini.
“Kenapa Palestina bisa setangguh itu? Karena memiliki coping. Mereka meyakini bahwa yang terjadi pada mereka adalah takdir. Mereka meyakini bahwa mereka punya Allah. Mereka bisa menghadapi kondisi saat ini karena mereka memahami bahwa mereka tinggal di tanah yang harus mereka pertahankan. Mereka yakin bahwa Allah telah menjanjikan balasan untuk mereka di Surga kelak. Akan ada kehidupan yang lebih baik dari dunia ini,” ungkapnya.
Pemateri yang berprofesi sebagai Psikolog Klinis ini juga menambahkan pola trauma orang-orang Palestina berbeda. Salah satunya “Post Traumatic Growth” yang berati perubahan positif menuju level lebih tinggi setelah mengalami peristiwa traumatis. Hal ini didapatkan dari pemaknaan terhadap sesuatu yang didapatkan dari petunjuk agama.
“Ibarat sesuatu dirobek, dilobangi justru cahaya dari situ masuk. Allah memperkenalkan kita dengan kekuatan kita salah satunya melaui ujian. Allah tahu kapasitas kita. Kita ikhtiar bagaimana menghadapi ujian yang Allah berikan,” tambahnya.
Di akhir kegiatan, peserta diajak untuk bergabung dengan Kelompok Islam Intensif yang disebut Generasi Hijrah (Gen H).
Reporter: Mutmainnah Jufri
Editor: Sinta Kasim
