Home ARTIKELTips Untukmu, Diri yang Sulit Berhenti dari Maksiat

Tips Untukmu, Diri yang Sulit Berhenti dari Maksiat

by Admin 1 FMDKI News
0 comments

Adakah manusia di muka bumi ini yang tidak terjatuh ke dalam dosa? Tentu saja tidak ada.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ.

Artinya: “Setiap anak Adam adalah bersalah dan sebaik-baiknya orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang mau bertaubat.” (HR. At-Tirmidzi no. 2499)

Mungkin kamu pernah bersalah dan lalai lalu kamu menyesali diri, bertaubat kepada Allah. Lantas beberapa waktu kemudian kembali larut dalam dosa yang sama. Sudah berusaha untuk bangkit dari maksiat menuju kebaikan namun selalu gagal dan gagal lagi.

Hal ini adalah suatu musibah untuk diri kita. Di mana kita sulit untuk berhenti dari kemaksiatan bahkan kecanduan dengan maksiat tersebut.

Imam Ibnu Qudamah berkata, penyebab ketagihan akan dosa ada dua, yakni:

  1. Ghoflah (lalai)

Manusia lalai terhadap apa yang seharusnya ia ketahui dalam agama. Akhirnya pengetahuan tentang Allah, Rasul, dan risalah yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat dangkal sekali sehingga tidak memiliki imunitas keimanan yang kokoh yang akibatnya, manusia rentan terhadap maksiat.

  1. Nafsu

Adapun nafsu, memiliki karakteristik tersendiri. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman dalam QS. Yusuf: 53 yang terjemahnya: “Sesungguhnya nafsu menyuruh manusia untuk melakukan keburukan”.

Maka, ketika dua penyebab dosa ini bersinergi pada diri seseorang niscaya ia akan ketagihan melakukan maksiat.

Sebagaimana dijelaskan di atas, bahwa penyebab seseorang rentan bermaksiat adalah lalai dan nafsu. Karenanya, cara mengobati atau berhenti dari kemaksiatan itu adalah dengan mengatasi dua penyebab tersebut.

Lalai bisa diatasi dengan:

  1. Memperbanyak membaca Al-Qur’an, mentadabburi ayat-ayat yang bertemakan tentang neraka dan azab Allah.
  2. Menjaga salat, karena salat dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.
  3. Membaca kisah para salafus sholeh Yang terkait dengan musibah yang menimpa mereka karena dosa yang mereka lakukan.
  4. Istiqomah menghadiri majelis-majelis ilmu.

Nafsu diatasi dengan:

  1. Menghadirkan dalam ingatan bagaimana siksaan bagi pelaku dosa seperti dosa peminum khamr, zina, gibah, namimah (mengadu domba), berbohong, melihat hal yang diharamkan, dll.
  2. Memperbanyak ibadah yang dapat meredam gejolak nafsu seperti puasa, qiyamul lail, dsb.
  3. Menghukum diri sendiri tiap kali bermaksiat, seperti tiap kali mengonsumsi makanan syubhat atau yang haram ia hukum diri dengan lapar dalam jangka waktu tertentu. Jika melihat hal yang diharamkan, ia menutup sementara matanya, jika mencuri sedekahkan harta yang paling dicintai sebagai bentuk sanksi demikian juga anggota tubuh lainnya.

Ulama Imam Al-Ghazali juga menganjurkan melakukan muhasabah (introspeksi diri) setiap waktu, bahkan setiap tarikan nafas, serta tiap kali perbuatan maksiat itu lahir dan batinnya lakukan. Muhasabah tiap kali diri lalai pada hak Allah dan bayangkan jika tiap kali bermaksiat sebuah batu dilemparkan ke rumah yang berbuat maksiat. Bukankah dalam waktu singkat saja rumah itu akan penuh batu? Tetapi banyak manusia terus menerus mengulangi perbuatan maksiat dan memandangnya remeh. Tidak mengingat bahwa malaikat pencatat amal tidak pernah tidur. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

أَحْصَاهُ اللَّهُ وَنَسُوهُ ۚ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Terjemahnya: “Allah mencatat amal perbuatan itu, sedangkan mereka telah melupakannya. Allah maha menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Al-Mujadilah: 6).

Wallahu a’lam.

Penulis: Indah Wahyu Ningsih
Editor: Sinta Kasim

You may also like

Leave a Comment