FMDKI.OR.ID, MAKASSAR – Forum Muslimah Dakwah Kampus Indonesia (FMDKI) gelar Temu Aktivis Dakwah Kampus Nasional (TADKN) yang di adakan secara hybrid dengan jumlah pesera sebanyak 785 orang. Peserta offline berpusat di Aula Prof. Mattulada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin Makassar dan via Zoom Meeting. Dengan mengangkat tema “Spirit Aktivis Dakwah kampus (Menggagas Peradaban Menuju Izzatul Islam)” pada 20/01/2024.
Ketua Umum FMDKI Ilma Auliya mengatakan, bahwa dengan adanya TADKN ini diharapkan mampu menjadi ajang silaturahmi aktivis dakwah dari berbagai belahan daerah di Indonesia dan menjadi awal bangkitnya kembali peradaban Islam.
“Salah satu yang menjadi tujuan utama diadakannya TADKN ini adalah sebagai ajang silaturahmi akbar para aktivis dakwah kampus dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Alhamdulillah kurang lebih 20 tahun yang lalu sampai hari ini sudah ada 32 FMDKI daerah yang terbentuk. Semoga dengan berkumpulnya para Aktivis Dakwah Kampus mengawali bangkitnya kembali peradaban Islam,” ungkapnya.
Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber yang sangat kompeten di bidangnya yaitu Ustaz Dr. KH. Muhammad Zaitun Rasmin, Lc., M.A dan Ustazah Nurinsani, S.Si., Apt., M.Pd.
Ustazah Nurinsani, S.Si., Apt., M.Pd selaku pemateri kedua yang merupakan daiyah yang lahir dari rahim aktivis dakwah kampus ini menyampaikan materi tentang rekonstruksi nilai-nilai perjuangan aktivis dakwah menuju Izzatul Islam.

Pada awal materinya, Trainer Badan Nasional Sertifikasi Profesi ini menjelaskan terlebih dahulu apa itu aktivis dakwah dan bagaimana keutamaannya.
“Orang yang secara aktif terlibat dalam keorganisasian agama suatu kampus, khususnya yang berafiliasi pada agama Islam itulah aktivis dakwah kampus. Dan kita adalah merupakan bagian dari orang-orang yang paling bagus perkataannya, sebagaimana yang sudah Allah katakan dalam firman-Nya di QS. Fushilat ayat 33,” jelasnya.
Wanita yang kerap disapa Ummu Ziyad tersebut juga menjelaskan apa saja nilai-nilai perjuangan aktivis dakwah kampus.
“Nilai yang pertama yang harus dimiliki oleh seorang aktivis dakwah kampus adalah ikhlas. Sebab, ikhlas ini bisa menjadi kekuatan untuk diri kita bahwa semua yang kita lakukan karena Allah maka Allah adalah sebaik-baik pemberi balasan. Kedua, pemahaman sehingga setiap yang mangaku dirinya seorang aktivis dakwah sudah seharusnya loba dengan ilmu. Serta empat nilai lainnya yakni yakin, mujahadah, perhatian yang besar dan sabar,” pungkasnya.
Pada pemaparan materinya, tidak lupa Ustazah Nurinsani berbagi tips bagaimana agar mampu menghadapi tantangan dakwah di zaman saat ini khususnya kepada semua peserta TADKN.
“Ada tiga komponen yang mesti kita miliki sebagai seorang aktivis dakwah agar mampu menghadapi tantangan dakwah hari ini. Pertama, self image atau cara pandang. Artinya adalah bagaimana sebelum kita menginginkan cara pandang orang lain kepada kita bagus maka perbaiki terlebih dahulu cara pandang kita kepada diri kita sendiri. Kedua, ada self esteem atau belajar menghargai diri dan ketiga yaitu self ideal,” tuturnya.
Senada dengan hal itu, diperlukan rekonstruksi nilai perjuangan sesuai dengan tantangan hari ini. Setidaknya ada empat poin yang menjadi catatan penting untuk peserta TADKN.
“Begitu perlu adanya rekonstruksi nilai perjuangan bagi para aktivis dakwah agar mereka bisa mampu menghadapi berbagai macam problematika dakwah hari ini. Diantaranya dengan rekonstruksi niat, ini yang pertama. Bagaimana dakwah ini bukan menjadi sebuah ajang popularitas, paksaan melainkan cita-cita besar untuk kembali pada kejayaan Islam. Kedua, rekonstruksi mindset atau fikrah yang berarti dakwah bagi mahasiswa itu perlu keseimbangan antara kualitas dakwah dan prestasi akademik. Ketiga, rekonstruksi manajemen diri dan terakhir rekonstruksi metode-metode dakwah,” jelasnya.
Reporter: Wahyuni
Editor: Sinta Kasim
