Home ARTIKELMenjadi Pemuda Rabbani

Menjadi Pemuda Rabbani

by Admin FMDKI News
0 comments

Masa muda adalah fase terpenting dalam kehidupan setiap manusia utamanya seorang pemuda muslim. Masa yang tidak akan pernah ter ulang dalam perjalanan kehidupan seseorang, semakin berjalannya waktu maka usia muda pun akan beranjak ke masa usia tua.

Kita mengenal dengan tiga fase waktu perjalanan masa setiap manusia yakni masa kecil, masa muda dan masa tua. Ketiga masa ini memiliki makna tersendiri, kelebihan dan kekurangannya.

Usia muda dari segi umur bisa dikatakan setelah beranjak 15 tahun hingga usia 40 tahun. Masa ini adalah masa kekuatan bagi setiap orang, baik dari segi fisik, mental, cara berfikir dan sikapnya dalam mengambil keputusan dan bertindak.

Seorang pemuda dikenal sebagai seseorang yang memiliki semangat yang membara, memiliki idealisme yang tinggi, memiliki kecerdasan dan ketajaman akal dalam berfikir dan menganalisa, memiliki tekad yang kuat dan gigih, memiliki jiwa optimisme, dan kokoh di atas prinsip dan perjuangannya.

Namun, kondisi ideal hakikat seorang pemuda masih jauh dari yang kita harapkan. Krisis moral dan akhlak generasi muda saat ini begitu nyata dihadapan kita. Waktu mereka yang terbuang sia-sia dengan bermain game dan melakukan berbagai perbuatan kemaksiatan dan hal-hal yang tidak bermanfaat.

Pemuda kita saat ini sangat jauh dari produktifitas, yang mampu mengantur waktunya dengan baik dalam meningkatkan kapasitas dan kualitas dirinya. Baik dari segi keilmuan dan kesholehannya.

Kita menyadari, bahwa projek pengrusakan generasi muda sangat nyata dilakukan oleh orang-orang barat dan kaum liberal. Upaya mereka mulai dari menjauhkan generasi muda utamanya pemuda muslim dari nilai-nilai syariat, baik semangatnya belajar menuntut ilmu agama hingga jauhnya dari membaca dan mempelajari Al-Quran.

Mantan perdana menteri Inggris William Edward Gladstone pernah mengatakan, “… percuma kita memerangi ummat Islam dan tidak akan mampu menguasainya selama di dada para pemuda Islam itu bertengger Al-Qur’an. Tugas kita sekarang adalah mencabut Al-Qur’an dari hati-hati mereka, baru kita akan menang dan menguasai mereka. Minuman keras dan music lebih menghancurkan umat Muhammad daripada 1000 meriam. Oleh karena itu, tanamkan dalam hati mereka rasa cinta terhadap materi dan seks.” (dikutip dari Elfata, edisi 02, vol. 14, 2014).

Jelaslah bahwa salah satu target utama para musuh dan pendengki Islam adalah merusak generasi mudanya. Perhatian pemuda yang dialihkan dari belajar ilmu menjadi kecintaan terhadap materi dan musik. Provokasi gaya hidup dan seksualitas yang membakar hawa nafsu para pemuda, sehingga terjadi perzinahan dimana-mana. Dan ini adalah sumber kejatuhan dan redupnya peradaban Islam.

Dr. Thoriq As Suwaidan dalam Kitab Al Andalus At Tarikh Al Musawwar mengatakan, “Salah seorang ulama di abad ini berkata. Tanyakan kepada sejarah, bukankah redupnya bintang peradaban kita tidak terjadi kecuali hari bersinarnya bintang para artis.”

Oleh karena itu, seorang pemuda harus memiliki prinsip yang kokoh dalam dirinya. Agar tidak terpengaruhi dengan hal-hal buruk yang digencarkan oleh orang-orang kuffar dan pemikiran yang menyimpang.

Menjadi Pemuda dan Generasi Rabbani

Pemuda dan Generasi Rabbani adalah impian kita dimasa sekarang dan masa yang akan datang, mereka yang kuat secara keilmuan dan amalan ibadah serta mengajarkan ilmu yang mereka miliki. Generasi muda yang memanfaatkan waktunya dengan baik dalam menuntut ilmu dan beramal. Melejitkan potensi yang dia miliki untuk perjuangan Islam.

Hafshah binti Sirrin berkata, “Wahai para pemuda, kerahkanlah potensi kalian selagi kalian masih muda, karena saya tidak melihat adanya kemungkinan beramal kecuali di masa muda.” (dikutip dari Buku Manajemen Waktu Para Ulama, Syaikh Abdul Fattah, hlm. 194).

Hal ini juga dinasehatkan oleh Imam Nawawi dalam mukadimah kitabnya Al-Majmu’ (I/169), beliau mengatakan, “Hendaklah seorang pelajar menggunakan kesempatan guna menghimpun ilmu ketika masa luang, masih bersemangat, masa muda, badan masih kuat, ide masih cemerlang, dan kesibukan masih minim, sebelum ia terhalangi oleh masa-masa mengganggu.”

********

Banyak diantara kita yang sering mendengar kata Rabbani, baik disandingkan dengan ulama, dai ataupun suatu generasi. Namun, kita masih sedikit mengenal tentang hakikat dan makna rabbani yang sesungguhnya. Derajat Rabbani adalah sebuah derajat yang lebih tinggi dari sekedar derajat ulama atau generasi ilmu tertentu.

Imam Al-Azhari, seorang Ahli Bahasa Arab (wafat 370 H) menjelaskan tentang makna Rabbani dalam Kitabnya Tahdzib Al-Lughah (14/225), beliau mengatakan, “Rabbani adalah sifat yang mengumpulkan antara kapasitas ilmu, pembuktian amal dan pengajaran ilmu.”

Tiga komponen ini syarat mutlak yang harus ada dalam diri suatu ulama ataupun generasi yang mencapai derajat Rabbani. Bahkan setiap poin dari ketiganya memiliki konsekuensi tersendiri yang apabila tidak tercapai maka sifat Rabbani belum bisa disandarkan pada suatu generasi atau ulama.

1. Kapasitas Ilmu

Generasi Rabbani harus memiliki kapasitas ilmu yang cukup dan kualitas ilmu yang shahih serta meniti dan kokoh di atas manhaj salaf. Makna inilah yang sering disebutkan oleh para salaf dalam ungkapan mereka: “Rabbaniyyun adalah para ahli fiqh (ulama) yang memiliki hikmah (bijak dan adil). Diantara mereka juga ada yang menafsirkannya, ulama yang bertakwa. (lihat Tafsir Al-Thabari: 6/541 dan setelahnya).

Sebab itu, untuk menjadi pemuda dan generasi Rabbani ialah harus memiliki keluasan ilmu dan kualitas yang mumpuni serta shahih. Kokoh di atas manhaj dan kebenaran yang dengannya mampu menjadi genarasi ahli ilmu.

Dalam catatan sejarah, tertulis dengan rapi nama-nama pemuda yang memiliki kapasitas dan kualitas ilmu yang sangat luarbiasa. Menguasai berbagai disiplin ilmu, baik ilmu fiqh, hadits, tafsir dan bahkan perkara-perkara dunia. Hal inilah yang menjadikan mereka sebagai pemuda dan generasi Rabbani atas kesabaran mereka dalam belajar dan menuntut ilmu hingga memiliki kapasitas ilmu yang mumpuni dan shahih.

2. Pembuktian Amalan

Generasi Rabbani adalah mereka yang melakukan amalan shalih, menyebarkan dakwah, serta pembaharuan baik diri sisi agama, maupun dunia dan seluruh bidang kehidupan dengan secara teratur dan terorganisir. Mereka ikut serta dalam perbaikan ummat dalam segala kini kehidupan.

Tidak dikatakan Rabbani kalau hanya fokus pada agama dan hanya selalu menjaga keshalihan pribadi, dan tidak melakukan pengorbanan untuk melakukan ishlah pada lini kehidupan yang lainnya, seperti ekonomi, agama, politik, sosial, pendidikan, dan lainnya.

Imam Al-Thabari menyebutkan pendapat ulama tentang makna Rabbani, “Rabbaniyyun adalah orang-orang yang menjadi sandaran manusia pada masalah fiqih, ilmu, dan mencakup perkara agama dan perkara dunia, dan makna Rabbani adalah orang yang mengumpulkan antara ilmu dan fiqh serta pengetahuan tentang masalah siyasah (pengaturan), tadbir (pengorganisasian), dan memperhatikan problem-problem penduduk, dan perbaikan kehidupan mereka baik dari segi dunia maupun agama.” (Tafsir Ibnu Jarir : 6/544-545).

Dari ungkapan ini, begitu jelas bahwa derajat Rabbani tidak hanya memfokuskan kehiduapan, dakwah, dan perhatian mereka pada bidang ilmu atau amalan agama tertentu. Namun merata keseluruh bidang ilmu dan amal-amal Islam, bahkan keseluruh kehidupan duniawi.

3. Mengajarkan Ilmu

Generasi Rabbani disebutkan oleh para salaf adalah yang juga aktif dalam mengajarkan ilmunya. Hal tersebut disebutkan oleh Ibnu Abbas dalam Shahih Bukhari, beliau mengatakan: “Ta’lim An-Naas Shigharal’ilmi qabla kibaarihi, (orang yang mengajarkan manusia dari ilmu yang ringan sebelum ilmu yang berat.”)

Olehnya itu, mengajarkan ilmu dan menebar dakwah adalah bagian karasteristik yang harus dimiliki oleh generasi Rabbani selain dua makna di atas. Jadi, seseorang atau generasi atau kelompok disebut Rabbani jika menggabungkan tiga makna di atas secara sempurna.

Sebagaimana perkataan Imam Al-Azhari dalam kitabnya Tahdzib Al-Lughah (14/225), beliau berlkata: “Barangsiapa yang dalam dirinya kehilangan satu saja dari tiga poin ini, maka ia tidak bisa disebut sebagai rabbani.”

Karenanya, untuk melahirkan pemuda dan generasi Rabbani adalah yang menggabungkan tiga sifat mulia tersebut, yakni meraih dan menuntut ilmu yang shahih sesuai manhaj salaf dengan kesungguhan, mengamalkan ilmu hingga mencapai derajat hikmah dan taqwa, serta mengajarkannya kepada orang lain sebagai ulama, dai dan murobbi.

Selain itu, ia juga menggabungkan antara ilmu, dakwah dan perbaikan segala bidang kehidupan masyarakat dan ummat Islam. Memiliki kemampuan untuk memimpin, mengorganisir umat serta menyelesaikan segala problem yang dihadapi baik masalah agama ataupun dunia. Mereka juga mampu membagi porsi antara ilmu dan pergerakan atau perbaikan peradaban umat Islam dalam berbagai kehidupan.

Generasi Rabbani juga adalah mereka yang memiliki semangat dalam menuntut ilmu dan meletakkan metode belajar, pengajaran dan pengkaderan yang baik dan berjenjang. Dengannya, ia akan belajar dan mengajarkan ilmu dengan porsi yang tepat, yang dia akan mulai dari pengajaran yang mudah, kemudian yang lebih rumit dan sulit.

Oleh sebab itu, kita berharap lahirnya para pemuda dan generasi Rabbani ditengah-tengah umat Islam dengan membawa solusi bagi semua problem dalam lini kehidupan masyarakat baik agama dan duniawi.

***********

Makassar, 31 Januari 2022

Penulis: Muhammad Akbar, S.Pd., M.Pd
(Aktivis Pemuda dan Media Islam, Pendiri Madani Institute, Founder Mujahid Dakwah dan Pembina Daar Al-Qalam)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

You may also like

Leave a Comment