Betapa benar dan hebatnya keimanan mereka, para saudari-saudari muslimah kita di India. Mereka harus menentang otoriter karena memperjuangkan hijabnya.
Walaupun mereka bukan dari negeri mayoritas Islam tapi mereka sangat menjungjung nilai syariat. Sedang di negara mayoritas Islam sendiri, banyak yang dengan mudah melepas dan meninggalkan hijabnya dengan alasan kepanasan, menganggu aktivitas, dan fashion.
Mereka memiliki akidah, dasar, atau landasan yang sangat kokoh bahwa perintah untuk berhijab adalah perintah Rabbnya, yang merupakan suatu bentuk ibadah tersendiri bagi dirinya sebagai wanita muslimah. mereka merealisasikan wujud dari aqidah itu sendiri yaitu tauhid atau mengesakan Allah Subhanahu Wa Ta’alla. Allah Ta’ala telah berfirman dalam al-Qur’an al-Karim,
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Terjemahnya: “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. al-Dzariyat: 56).
Mereka memang hanya wanita yang hakikatnya lemah dibandingkan dengan laki-laki. Akan tetapi dengan keimanan yang kokoh dan teguh tersebut menjadikan mereka berbeda dari wanita pada umumnya.
Mereka yakin bahwa apa pun peristiwa yang terjadi di alam ini dan apa pun yang terjadi pada diri manusia adalah bagian dari qadha’ dan takdir Allah. Mereka yakin bahwa apa yang menimpanya bukan untuk membuat mereka merasa lemah dan pasrah dengan keadaan. Akan tetapi hal tersebut membuat mereka semakin kuat, menjadikan masalah yang menimpa agama mereka saat ini sebagai sumber amalan shaleh, sambil bertawakal dengan sebenar-benarnya tawakal kepada Alah, yakin bahwa dia senantiasa membutuhkan pertolongan, bimbingan dan ridha-Nya.
Akidah mereka yang lurus, bersih, dan suci tidak terlumuri noda kebodohan, kebeningannya tidak menjadi keruh hanya karena kebijakan otoriter yang menyerang agamanya dan semangatnya tidak pernah padam oleh bayang-bayang keraguan. Ini adalah aqidah yang ditegakkan diatas iman kepada Allah yang Maha Esa, Maha tinggi, dan Berkuasa atas segala sesuatu, yang di Tangan-Nya
قُلْ مَنْ بِۢيَدِهٖ مَلَكُوْتُ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُوَ يُجِيْرُ وَلَا يُجَا رُ عَلَيْهِ اِنْ ۗ قُلْ فَاَ نّٰى تُسْحَرُوْنَ
Terjemahnya: “Katakanlah, ‘Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu, sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (adzab)-Nya jika kalian mengetahui?’ Mereka akan menjawab, Kepunyaan Allah’. Katakanlah, (Kalau demikian), maka dari jalan manakah kalian ditipu?” (QS. al-Mukminun: 88-89)
Iman yang mendalam, bersih dan jelas ini menambah kepribadian para muslimah di India semakin kuat, sadar dan matang. Dia melihat hakikat kehidupan ini sebagai tempat ujian dan menentukan pilihan, lalu hasilnya pasti akan muncul pada suatu hari yang tidak disangsikan kedatangannya.
قُلِ اللّٰهُ يُحْيِيْكُمْ ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ يَجْمَعُكُمْ اِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِ لَا رَيْبَ فِيْهِ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّا سِ لَا يَعْلَمُوْنَ
Terjemahnya: “Katakanlah, Allahlah yang menghidupkan kalian kemudian mematikan kalian, setelah itu mengumpulkan kalian pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui’. ” (QS. al-Jasiyah: 26)
Dalam ayat lain juga dijelaskan bagaimana Allah menciptakan manusia tidak main-main,
اَفَحَسِبْتُمْ اَنَّمَا خَلَقْنٰكُمْ عَبَثًا وَّاَنَّكُمْ اِلَيْنَا لَا تُرْجَعُوْنَ
Terjemahnya: “Maka apakah kalian mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kalian secara main-main (saja), dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. aI-Mukminun: 115)
Pada hari itu setiap manusia akan diberi balasan sesuai dengan amalnya. Jika berbuat baik, maka dia mendapatkan balasan kebaikan dan jika berbuat buruk, maka dia mendapatkan balasan yang buruk pula, dan dia tidak akan dirugikan sedikit pun.
وَلَقَدْ خَلَقْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعَ طَرَآئِقَ ۖ وَمَا كُنَّا عَنِ الْخَـلْقِ غٰفِلِيْنَ
Terjemahnya: “Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya.” (QS. al-Mukmin: 17)
Timbangan hisab benar-benar detail dan teliti, merupakan keuntungan ataukah kemalangan.
فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَا لَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗ
Terjemahnya:“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. (QS. al-Zalzalah: 7)
Pada hari ini tidak ada yang lolos dari perhatian Allah Rabbul-lzzati wal-Jalali, sekalipun hanya seberat biji sawi. Firman-Nya,
وَنَضَعُ الْمَوَا زِيْنَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيٰمَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَـفْسٌ شَيْـئًـا ۗ وَاِ نْ كَا نَ مِثْقَا لَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ اَتَيْنَا بِهَا ۗ وَكَفٰى بِنَا حٰسِبِيْنَ
Terjemahnya: “Kami akan memasang timbangan yang tepat pada Hari Kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan, jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala) nya. Dan, cukuplah Kami menjadi orang-orang yang membuat perhitungan. ” (QS. al-Anbiya’: 47)
Tidak dapat diragukan, jika muslimah di India sana yang memiliki akidah yang kokoh dan kuat mau memperhatikan makna yang terkandung di dalam ayat-ayat yang jelas maknanya ini, menyimak dengan mata hatinya tentang hari yang sangat menegangkan itu, tentu dia akan langsung menghadap kepada Allah dengan penuh ketaatan, kepasrahan dan rasa syukur, segera mempersiapkan diri untuk menghadapi hari itu, dengan mengerjakan amal-amal saleh.
Semoga Allah senantiasa mengistiqomahkan diri-diri kita untuk tetap berpegang teguh pada tali agama ini. Allahumma Aamiin..
Demikian Semoga Bermamfaat…
Wallahu ‘alam bishowab…
______________
Penulis: Wahyuni
Editor: Sinta Kasim
