Home FMDKI BERCERITAPergaulan Bebas Kian Marak, Siapa yang Paling Bertanggung Jawab?

Pergaulan Bebas Kian Marak, Siapa yang Paling Bertanggung Jawab?

by Wahyuni
0 comments

FMDKI.OR.ID – Akhir bulan Juli kemarin, ramai media pemberitaan mengungkap fakta yang bikin alis makin berkerut. Disebutkan seorang remaja perempuan yang masih duduk di bangku SMP melakukan masturbasi dengan botol minyak telon sebagai benda pengganti sex toy untuk pemuas libidonya.

Mirisnya, jelang beberapa hari setelah tersebarnya video viral tersebut, dikabarkan kembali oleh banyak media bahwa pemeran videonya telah meninggal dunia karena malu dan tidak tahan dengan bully-an warganet serta teman-temannya. Bisa dibayangkan, bagaimana bahaya dan dampak dari pergaulan bebas tersebut sampai akhirnya harus bertaruh nyawa.

Kabar mengenai maraknya kasus pergaulan bebas antar lawan jenis di kalangan remaja tak kalah heboh dengan berita banyaknya remaja yang hamil di luar nikah. Hal yang disayangkan dan kian memprihatinkan karena sebagian besar mereka adalah muslim. Usia mereka masih sangat belia, bahkan ada yang berusia di bawah 16 tahun.

Apa yang membuat mereka seperti ini? bagaimana dengan peran orang tua mereka di rumah, atau peranan para guru di sekolah? Kenapa kasusnya semakin hari terus meningkat? Tak main-main, Benar saja, tak lama berselang, ada lagi daerah lain yang mengalami hal yang sama, na’udzubillah.

Pergaulan bebas antar lawan jenis di kalangan remaja bisa disebabkan oleh beberapa faktor. Ada yang karena si anak bermasalah dengan keluarganya, orang tuanya yang kurang kontrol, hubungan antar anggota keluarga yang renggang, salah pergaulan, semakin bebasnya anak kita dalam mengakses beragam informasi dan hiburan, permainan dan lainnya.

Dikutip dari laman sehatQ, disebutkan bahwa pihak Kementerian Kesehatan, dalam artikel yang ditulis oleh Dina Rahmawati pada tanggal 31 Oktober 2019, menjelaskan bagaimana peran pendidikan dalam keluarga itu punya pengaruh yang besar bagi anak-anak, khususnya di usia remaja. Menurutnya, sebagian besar kasus seks bebas pada remaja terjadi karena kurangnya pengawasan dan kontrol orang tua.

Lebih lanjut lagi, di antara anak muda bangsa, ada yang mencari referensi pengetahuan perihal seksualitas lewat kanal-kanal media sosial yang rawan. Akhirnya, mereka mendapatkan tuntunan dari tontonan yang tak layak dan miskin nilai. Maka, kekompakan dan kerja sama antara orang tualah yang pertama dan utama diharapkan dalam mendidik dan mengarahkan anak dengan baik.

Aplikasi pendidikan seksualitas yang baik dan benar selayaknya dapat didemonstrasikan oleh ayah dan ibu. Bukan orang lain. Sebab yang lebih tahu diri anak adalah mereka, bukan tetangga, bukan teman, apalagi media sosial yang bebas nilai.

Tahukah kita, bahwa ternyata pendidikan adab dan akhlak yang mengatur hubungan antara laki-laki dan perempuan beserta batasan-batasannya bagi anak itu memang penting, bahkan sangat penting diajarkan sejak dini.

Benarkah maraknya kasus pergaulan bebas hingga menyebabkan hamil di luar nikah itu lebih karena faktor salah didik? Bagaimana maksudnya?

Tak dapat dipungkiri kondisi tantangan zaman yang berada pada puncak arus budaya syahwat ini kurang diantisipasi, bahkan masih terdapat kesenjangan atau kerawanan pada metode asuh kita dalam mendidik anak. Misalnya dengan membuat mereka tertekan dan tak nyaman berada di rumah, sehingga mereka mencari kesenangan di luar rumah.

Selayaknya orang tua juga memberikan penjelasan yang mudah dimengerti, tercerna logika mereka yang sedang proses berkembang. Mereka yang sedang memasuki fase akil balig dan memahami lingkungannya. Jika pun menyinggung soal pendidikan seksual sebagaimana dibahas para pakar sosial kemasyarakatan dan praktisi kesehatan maka tentu tak cukup sekadar memberi informasi seputar kesehatan seksual dan reproduksi pada anak.

Jelaskanlah batasan-batasan penting terkait hubungan pertemanan antara lawan jenis dan akibat yang akan timbul jika mereka mengikuti gaya hidup bebas. Apa saja perangkap dan pengantar seseorang bisa terjatuh dalam perzinaan dan dampak lanjutannya jika memperturutkan hawa nafsu di balik kata cinta?

Biarkan anak untuk bertanya apa pun yang ingin diketahuinya mengenai hal ini, tentunya setelah mencontohkan adab dan akhlak Islami, lalu siapkan jawaban jitu secara bijak.

Membuat anak nyaman ketika berdiskusi dan membangun komunikasi yang baik akan memudahkannya memahami dengan benar. Bukan tabu, tapi memang ini sangat penting dan juga perlu.

Di usia belasan yang menginjak dewasa misalnya, kita sebagai orang tua dituntut untuk mampu menangkap momen. Termasuk dalam hal ini kemampuan memilih, menunda atau menyegerakan penjelasan yang benar. Jika pun Anda harus menunda waktu karena belum siap menjawab dengan baik, jangan sampai informasi tersebut anak dapatkan dari luar, sangat berbahaya.

Dengan demikian, kita bisa mengantisipasi dan memutus rantai penyebaran virus cinta terlarang dan memecahkan persoalan maraknya hamil di luar nikah ini. Di antara cara memaksimalkan pendidikan di dalam rumah dengan baik adalah dengan kembali menghidupkan nilai-nilai Islam, dengan senantiasa merasakan eksistensi dan pengawasan-Nya.

Dalam hal gaya komunikasi, kita bisa memvariasikan metode misalnya dengan menjadikan anak bak sahabat dekat yang mau mendengar dengan baik, agar anak mau membuka diri, mau bercerita tentang masalah-masalahnya dengan kita.

Dari obrolan itu, bisa diketahui siapa saja temannya dan bagaimana karakternya, lalu secara bertahap kita juga selayaknya mampu mendorong mereka untuk lebih kreatif dan produktif dengan mengembangkan bakat dan minatnya, agar hormonnya bisa produktif ke arah yang baik. Sesibuk apa pun Anda, sempatkanlah waktu lebih untuk menunjukkan perhatian Anda kepada mereka.

Dengan begitu, kita sudah punya jawaban kelak jika ditanya Allah. Bagaimana kita mendidik amanah yang dititipkan kepada kita, anak-anak kita? sudahkah dididik dengan baik dan benar? Semoga Allah mudahkan kita dalam mendidik anak-anak kita. Tentu saja kita, sebagai orang tua juga harus terus belajar. Belajar dan belajar lagi.

Penulis: Wahyuni
Editor: Tim FMDKI News

You may also like

Leave a Comment