Home ARTIKELBulan Ramadan, Momentum Jihad dengan Al-Qur’an

Bulan Ramadan, Momentum Jihad dengan Al-Qur’an

by Wahyuni
0 comments

FMDKI.ORG, Mengapa Ramadan disebut bulan jihad? Karena banyak jihad dan kemenangan yang diraih kaum muslimin pada bulan Ramadan.

Simaklah kembali perang Badar. Ia terjadi pada bulan Ramadan bertepatan dengan tahun diwajibkannya puasa Ramadan, yakni pada tahun 2 Hijriah. Saat itu, 313 pasukan Islam berhasil mengalahkan 1000 pasukan kafir Quraisy yang bersenjatakan lengkap.

Kemenangan gemilang pertama yang diraih umat Islam ini kemudian menjadi penguat eksistensi kaum muslimin di Madinah dan pembuka bagi kemenangan-kemenangan Islam berikutnya. Adakah pakar militer saat itu yang bisa memprediksi bahwa Rasulullah  ﷺ dan para sahabatnya bisa memenangkan peperangan? Kemenangan jihad ini terjadi di bulan Ramadan!

Enam tahun kemudian terjadi peristiwa yang jauh lebih besar dan mempesona. Inilah penaklukan paling indah dalam sejarah umat manusia. Penaklukan tanpa korban jiwa. Kemenangan besar tanpa tetesan darah!

Sepuluh ribu pasukan Islam yang dipimpin oleh Rasulullah ﷺ memasuki Makkah dengan tenang, menang tanpa perlawanan. Bukan hanya kemenangan secara fisik yang membuat pasukan Makkah tidak berani memberontak, tetapi juga kemenangan jiwa sehingga keimanan mampu masuk ke dalam jiwa-jiwa mayoritas penduduk Makkah menggantikan seluruh kekufuran dan permusuhan mereka.

Maka, tak ada satupun yang membela saat 360-an berhala di sekeliling ka’bah dihancurkan. Tak ada yang meratapi atau melakukan demontrasi saat berhala-berhala itu dilenyapkan. Sebab, sesaat sebelum dilenyapkan dari masjidilharam, Allah telah melenyapkan dari hati mereka. Inilah jihad dan kemenangan besar yang juga terjadi di bulan Ramadan.

Masih banyak sejarah jihad yang dimenangkan kaum muslimin di bulan Ramadan. Pada Ramadan 15 Hijriah, terjadi perang Qadisiyyah di mana orang-orang Majusi di Persia ditumbangkan. Pada Ramadan 53 Hijriah, umat Islam memasuki pulau Rhodes di Eropa.

Pada bulan Ramadan 91 Hijriah, umat Islam memasuki selatan Andalusia. Kemudian pada Ramadan tahun 92 Hijriah, umat Islam keluar dari Afrika dan membuka Andalusia dengan komandan Thariq bin Ziyad. Lalu pada Ramadan 658 Hijriah, Pasukan Islam di bawah kepemimpinan Saifuddin Qutuz berhasil mengalahkan pasukan Mongol dalam Perang Ain Jalut.

Apa itu jihad? Apakah jihad hanya sekadar peperangan sebagaimana digambarkan pada kisah-kisah di atas?

Syaikh Abdullah Azzam dalam Tarbiyah Jihadiyah menjelaskan arti jihad. Secara bahasa jihad berarti: mencurahkan kesungguhan, mengerahkan kekuatan secara maksimal. Sedangkan menurut terminologi, kata jihad mempunyai makna: mengorbankan jiwa dan harta dalam rangka membela agama Allah dan melawan musuh-musuhnya.

Jihad merupakan ibadah yang memiliki keutamaan luar biasa di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di antara keutamaannya yaitu pertama, derajat yang tinggi melebihi ibadah lain. Kedua, pahala ribath dalam jihad lebih baik dari dunia dan seisinya. Ketiga, selamat dari api neraka dan keempat yaitu jihad dan syahid adalah cita-cita Rasulullah ﷺ. Beliau bersabda:

الَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوَدِدْتُ أَنِّى أُقْتَلُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ أُحْيَا ، ثُمَّ أُقْتَلُ ثُمَّ أُحْيَا ، ثُمَّ أُقْتَلُ ثُمَّ أُحْيَا ، ثُمَّ أُقْتَلُ

Artinya: “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh aku senang sekali bila aku terbunuh fii sabilillah, lalu aku dihidupkan lalu aku terbunuh lalu aku dihidupkan lagi lalu aku terbunuh, lalu aku dihidupkan lagi lalu aku terbunuh” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ada dua jihad di bulan Ramadan yang perlu diperjuangkan. Dua hal ini butuh perjuangan untuk bisa terus merutinkannya dan hanya dengan taufik dari Allah yang bisa memudahkannya. Apakah itu?

Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah menjelaskan, “Ketahuilah bahwa seorang mukmin melakukan dua jihad di bulan Ramadan. Jihad pertama adalah jihad pada diri sendiri di siang hari dengan berpuasa. Sedangkan jihad kedua adalah jihad di malam hari dengan shalat malam. Siapa yang melakukan dua jihad dan menunaikan hak-hak berkaitan dengan keduanya, lalu terus bersabar melakukannya, maka ia akan diberi ganjaran di sisi Allah dengan pahala tanpa batas (tak terhingga).” Ini yang beliau sebutkan dalam Lathoiful Ma’arif, hal. 306.

Ka’ab bin Malik berkata, “Setiap yang menjaga amalannya akan dipanggil pada hari kiamat dan akan diberi balasan. Adapun ahli Qur’an dan puasa, mereka akan dibalas dengan pahala tak terhingga.” Disebutkan oleh al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 3928.

Sebagai bukti dari keutamaan dua jihad di atas adalah syafa’at bagi shohibul Qur’an dan orang yang berpuasa pada hari kiamat kelak.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَىْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِى فِيهِ. وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِى فِيهِ. قَالَ فَيُشَفَّعَانِ

”Puasa dan al-Qur’an itu akan memberikan syafa’at kepada seorang hamba pada hari kiamat nanti. Puasa akan berkata, ’Wahai Tuhanku, saya telah menahannya dari makan dan nafsu syahwat, karenanya perkenankan aku untuk memberikan syafa’at kepadanya’. Dan al-Qur’an pula berkata, ’Saya telah melarangnya dari tidur pada malam hari, karenanya perkenankan aku untuk memberi syafa’at kepadanya.’ Beliau bersabda, ’Maka syafa’at keduanya diperkenankan.’“ (HR. Ahmad 2: 174, dari ‘Abdullah bin ‘Amr. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 984).

Syafa’at dari puasa diberikan bagi orang yang meninggalkan yang haram seluruhnya. Namun bagi yang menyia-nyiakan puasanya, yang tidak bisa menjaga diri dari yang haram, maka ia tidak bisa mendapatkan syafa’at tersebut.

Sedangkan syafa’at dari al-Qur’an diberikan bagi orang yang kurang tidurnya di malam hari karena tersibukkan dengan mengkaji al-Qur’an. Itulah yang mendapatkan syafa’at dari al-Qur’an. Demikian dijelaskan oleh Ibnu Rajab dalam Lathoiful Ma’arif, hal. 306 dan 307.

Ada empat bentuk jihad dengan al-Qur’an yaitu pertama tilawah atau dibaca. Bagaimana kemudian seorang mukmin berkomitmen untuk menyelesaikan target bacaannya selama bulan Ramadan yang tentunya butuh perjuangan dan pengorbanan.

Kedua, yaitu tadabbur. Tidak semua dari kita mengerti arti dari bahasa Arab sehingga untuk memahami maksud dari ayat yang kita baca perlu kiranya untuk ditadabburi atau penghayatan terhadap ayat-ayat al-Qur’an.

Ketiga, menghafalkannya atau hifdz. Tentu yang satu ini juga butuh perjuangan dan pengorbanan yang besar dari banyaknya agenda-agenda kita setiap harinya terlebih lagi di bulan Ramadan. Jika ditanya, mana yang lebih utama membaca atau menghafal Al-Qur’an? Jawabannya adalah keduanya sama-sama utama. Ketika seseorang bisa menggabungkannya maka itu jauh lebih baik.

Keempat adalah tingkatan jihad dengan al-Qur’an yang paling tinggi yaitu mengamalkannya. Mengamalkan setiap apa yang ada dalam al-Qur’an hendaknya bukan hanya di bulan Ramadan semata namun juga di luar dari bulan mulia ini.

Gowa, 5 April 2022

Penulis: Wahyuni

Demikian Semoga Bermanfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

You may also like

Leave a Comment