Home ARTIKELDi Balik Kesulitan Ada Kemudahan

Di Balik Kesulitan Ada Kemudahan

by Admin 1 FMDKI News
0 comments

Setiap orang yang lahir di dunia pasti punya ujiannya masing-masing. Allah Subhanahu Wata’ala telah menjadikan dunia dengan beragam ujian, untuk menguji siapa yang paling bertakwa diantara manusia lainnya.

Kecil atau besarnya ujian tergantung Allah memandang kuatnya seorang hamba. Begitu pun dengan kuatnya seseorang tentu dilihat dari bentuk kesulitan yang dihadapinya. Jika dengan kesulitan itu ia mampu bersabar, maka Allah akan beri kemudahan.

Adanya tingkat kesulitan yang diberikan Allah Subhanahu wata’ala untuk mengukur sejauh mana usaha seorang hamba untuk bersabar dalam menghadapinya. Tidaklah Allah memberikan suatu kesulitan melainkan ada kemudahan setelahnya. Sebagaimana firman-Nya:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِيُسْرًا, إِنَّ مَعَ الْعُسْرِيُسْرًا

Terjemahnya: “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”. (QS. Al-Insyirah: 5-6).

Dalam ayat ini Allah mengulangi perkataanya sebanyak dua kali dan kedua ayat ini cukup membuat merasa lega sekaligus bisa menjadi bahan motivasi ketika berada dalam masa-masa sulit. Melalui ayat tersebut, Allah memberi motivasi kepada Nabi salallahu ’alaihi wasallam dan juga kepada para hamba-Nya yang beriman bahwa tidak ada kesulitan yang tidak teratasi selama memiliki sabar dan semangat untuk keluar dari kesulitan tersebut.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam adalah sosok manusia yang luar biasa, orang yang jelas-jelas kemuliaannya di hadapan Allah tapi masih saja diuji dengan berbagai kesulitan bahkan dengan ujian lebih besar dari yang pernah dialami manusia lainnya.

Dalam riwayat perjalanan hidup kerasulannya, beliau pernah mengalami masa-masa sulit. Puncak dari masa-masa sulit yang dialami Rasulullah adalah ketika sosok yang mendukung dakwahnya, yakni paman beliau yang bernama Abu Thalib meninggal dunia.

Setelah itu, fase tersulit yang dialami beliau juga terulang di tahun yang sama, yakni setelah wafatnya Khadijah Radhiallahu Anha, istri tercintanya, juga orang yang sangat berpengaruh terhadap dakwah beliau. Utamanya dalam memberikan semangat dan kontribusi dana yang besar dalam dakwah.

Kepergian kedua orang yang dicintai Rasulullah sangat berpengaruh terhadap perjalanan dakwah beliau, hal ini jelas sangat berbekas dan di sinilah puncak masa-masa sulit yang beliau rasakan. Hingga pada saat itu dalam sejarah dinamakan tahun duka cita.

Di masa sulit tersebut, perjalanan dakwah beliau seakan mengalami jalan buntu, penduduk kota Thaib semakin menjadi-jadi dan berbuat senonoh setelah ketiadaan paman yang selalu membelanya. Tidak hanya itu, Rasulullah merasa terpuruk setelah dakwahnya tidak diterima oleh penduduk kota Thaib.

Dalam kondisinya yang seperti itu, Allah datang memberikan jalan keluar dengan cara meng-Isra Mi’rajkan beliau agar terhibur dari kesedihan. Setelah Allah datang memberikan jalan keluar dari kesulitan yang dialami Rasulullah, yakni dengan mengisra mi’rajkan beliau, maka perlahan kesedihan itu surut dan berakhir. Bahkan dalam sejarah, setelah kegiatan Isra Mi’raj Rasulullah dikabarkan dengan penduduk kota Yastrib berbondong-bondong masuk Islam.

Kisah inspiratif juga muncul di kalangan sahabat Rasulullah salah satunya yang dikenal sebagai budak yaitu Bilal bin Rabah Radhiallahu Anhu. Setelah dakwah Rasulullah sampai ke telinganya, maka pada saat itu juga ia masuk Islam secara sembunyi-sembunyi. Hingga kabar masuknya Bilal dalam Islam sampai ke telinga majikannya, yakni Umayyah bin Khalaf.

Pada saat itu, majikannya sangat marah sampai kemudian terjadi penyiksaan yang berat luar biasa pada diri Bilal. Sebuah fase tersulit di mana beliau harus memposisikan dirinya antara hidup dan mati. Namun beliau tetap pada pendiriannya, membela ajaran Rasulullah yakni mentauhidkan Allah.

Dari kabar penyiksaan seorang budak hitam ini, terdengar oleh sahabat Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam yaitu Abu Bakar As-Shidiq Radhiallahu Anhu. Di sinilah Allah memberikan pertolongannya kepada Bilal dengan dibebaskannya sebagai budak Umayyah bin Khalaf. Setelah dibebaskan dan dimerdekakan dari seorang budak, Bilal akhirnya ditunjuk oleh Rasulullah untuk mengumandangkan azan yang pertama kalinya dalam sejarah Islam.

Dari sini kita bisa mengambil pelajaran bahwa jika seorang hamba ingin lebih terpuji dan memperoleh kemuliaan maka tidak sepantasnya mengeluh dengan level kesulitan yang dihadapi. Akan tetapi, bagaimana ia bersabar dan berusaha untuk meloloskan diri keluar dari gerbang kesulitan itu menuju kemenangan yang hakiki. Sebab satu kesulitan tidak pernah mengalahkan dua kemudahan, sebagaimana janji-Nya pada ayat di atas.

Olehnya itu, jangan pernah mengeluh atas setiap kesulitan.
Sebab Allah tidak pernah memberikan kesulitan kepada hamba-Nya tanpa adanya solusi dan kemudahan. Yakinlah bahwa setiap kesulitan pasti ada jalan menuju kemudahan.

Wallahu ‘alam bishowab.

Penulis: Hamdana
Editor: Sinta Kasim

You may also like

Leave a Comment