Home ARTIKELLife is Too Short

Life is Too Short

by Mutmainnah Jufri
0 comments

FMDKI.ORG, “Nikmati masa mudamu”. Istilah itu banyak diserukan oleh para kaum muda, mereka yang sedang asyiknya bermain, belajar, jalan-jalan, atau sibuk dengan hobi mereka masing-masing.

Ada pula yang aktif di sosial media, membuat konten lalu meng-upload-nya di kanal YouTube, bahkan ada yang hanya rebahan di kamar sambil menonton drakor. Begitulah kiranya yang kebanyakan terlihat di kehidupan anak muda zaman sekarang. Lalu apakah benar seperti itu definisi dari “nikmati masa mudamu”?

Banyak yang salah mengartikan pernyataan bahwa jalan masih panjang maka nikmatilah selagi masih muda, walau sebenarnya itu tidak sepenuhnya salah. Usia muda memang untuk dinikmati, karena di usia itu diberikan fisik bugar, semangat membara, pikiran yang fresh, sehingga banyak aktivitas bisa dilakukan.

Tak sedikit yang keliru, sampai mereka menikmati masa muda dengan cara salah. Seperti melakukan hal-hal tanpa memikirkan risikonya. Contohnya hubungan dengan lawan jenis yang tidak lagi mengenal batas, konsumsi minuman keras, berjoget tanpa kenal rasa malu demi FYP di akun TikTok, aurat diumbar, bahkan sampai mencicipi narkoba, Naudzubillah min dzalik.

Padahal masa muda adalah masa yang penuh dengan tanggung jawab, bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat kelak. Lantas bagaimana mempertanggungjawabkan jika yang dilakukan hanya hal sia-sia?

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Tidak akan bergeser kaki manusia di hari kiamat dari sisi Rabb-nya sehingga ditanya tentang lima hal: tentang umurnya dalam apa ia gunakan, tentang masa mudanya dalam apa ia habiskan, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan dalam apa ia belanjakan, dan tentang apa yang ia amalkan dari yang ia ketahui (ilmu).” (HR. At-Tirmidzi no. 946).

Maka dari itu, mari berpikir sejenak sembari introspeksi diri. Apakah yang dilakukan sekarang bermanfaat bagi diri pribadi? Jangan sampai bukannya menikmati masa muda malah menghancurkan masa depan. Sebab cerminan masa depan dilihat dari apa yang dilakukan di masa sekarang.

Selain dari mereka yang tak memanfaatkan waktu, tentu tak sedikit pula yang sadar akan berharganya masa muda.

Barangkali saat ini masih bisa menemui pemuda pemudi yang aktif dalam kegiatan positif. Mereka sibuk memperbaiki diri, beramal saleh, belajar demi menggapai cita-cita mulia. Bahkan di berbagai platform, masih banyak yang memberikan konten-konten positif, berbagi hal-hal menarik untuk memperluas wawasan, berdakwah, atau konten belajar yang mengasyikkan.

Ada pula mahasiswa yang tidak hanya sibuk kuliah tapi juga haus dalam menuntut ilmu agama, sambil menyibukkan diri ikut dalam aktivis dakwah.

Tentunya banyak hal positif yang bisa dilakukan untuk menikmati masa muda. Hanya perlu sadar akan pentingnya masa muda sebagai bekal di masa depan dan juga bekal di akhirat kelak.

Sebab, kehidupan dunia yang dijalani sekarang tidak lain hanyalah tempat persinggahan, yang suatu saat nanti akan kembali kepada Sang Pencipta pada waktu yang sudah ditentukan. Tidak ada yang bisa menjamin apakah diri masih bisa hidup sampai di masa tua, sebab ajal tidak mengenal usia. Sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla:

هُوَ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ يُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوٓا۟ أَشُدَّكُمْ ثُمَّ لِتَكُونُوا۟ شُيُوخًا ۚ وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّىٰ مِن قَبْلُ ۖ وَلِتَبْلُغُوٓا۟ أَجَلًا مُّسَمًّى وَلَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Terjemahnya: “Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup) sampai tua. Di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya).” (QS. Al-Mukmin ayat 67).

Bukankah kematian adalah hal paling rahasia? Hari ini masih bisa bernapas, esok belum tentu masih diberi kesempatan untuk menghirup udara segar.

Tidak cukupkah peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekeliling menjadi pengingat bahwa ajal bisa datang kapan saja, di mana saja, dan di usia berapa pun?

Ada yang meninggal di waktu masih bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa, dan tua. Ada yang meninggal karena sakit, ada pula dalam keadaan sehat. Ada yang berada di rumah, jalan, keramaian, di mana pun dan dalam keadaan apa pun.

Tentu kita semua ingin meninggal dalam keadaan husnul khotimah (sebuah akhir yang baik), karena yang ingin diraih adalah surga. Tapi perlu diingat, surga tidak diraih dengan bersenang-senang semata, surga hanya bisa diraih dengan melakukan amalan yang dicintai Allah Subhana wa Ta’ala.

Life is too short, hidup ini terlalu singkat. Jangan larut dalam kesenangan, jangan pula larut dalam kesedihan. Perbanyak syukur dan bertakwalah kepada Allah Subhana wa Ta’ala. Jangan sampai ada penyesalan nantinya.

Ingat ada lima perkara agar bisa memaknai sebenar-benarnya kehidupan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Artinya: “Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: 1. Waktu mudamu sebelum datang masa tuamu, 2. Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, 3. Masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, 4. Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, 5. Hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Ibnu Abbas).

Oleh karena itu, menjadi seorang muslim perlu paham bahwa hidup ini singkat. Manusia diciptakan tidak lain hanya untuk beribadah kepada Allah. Maka dengan selalu mengingat Allah Subhana wa Ta’Ala, apa yang dilakukan sekarang bisa bernilai di sisi-Nya sehingga tidak ada kesia-siaan untuk menjerumuskan diri ke jalan salah.

Menikmati masa muda artinya menjadikan masa itu sebagai ajang memperbanyak amal saleh, membimbing diri agar terus istiqomah sampai kematian datang dan kita dalam keadaan sedang mencintai Allah sedalam-dalamnya.

Penulis: Mutmainnah Jufri
Editor: Sinta Kasim

You may also like

Leave a Comment