Home ARTIKELSejarah Tahun Baru Masehi dan Bagaimana Menyikapinya

Sejarah Tahun Baru Masehi dan Bagaimana Menyikapinya

by Admin 1 FMDKI News
0 comments

FMDKI.ORG, Sudah menjadi kebiasaan manusia kebanyakan setiap malam pergantian tahun baru, tak sah rasanya bila tidak disertai perayaan. Berpesta, begadang hingga tengah malam menunggu pergantian tahun, bernyanyi disertai musik yang memekakkan telinga, minum-minuman keras, bunyi petasan dan terompet yang bersahut-sahutan melengkapi euforia dimalam tersebut.

Merayakan perayaan tahun baru tidak hanya dilakukan oleh Kaum Nashrani, bahkan umat Muslim pun banyak yang turut merayakan dengan penuh suka cita. Dikarenakan budaya perayaan ini sudah lazim dilaksanakan oleh semua kalangan bahkan diseluruh belahan bumi.

Namun tahukah kamu? Bahwa sesungguhnya Umat Islam telah tertipu. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Hj. Irena Handono Mantan Biarawati yang kini telah Muallaf dalam tulisannya, bahwa ummat Islam telah tertipu dengan perayaan tahun baru tersebut lalu memberikan kutipan hadits yang artinya:

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (Hadits Riwayat Abu Dawud)

Hadits ini dikaitkan dengan kebiasaan kaum muslimin yang latah ikut menyambut tahun baru disertai hal-hal yang menyertainya yang mana hal tersebut identik dengan budaya pagan atau budaya kaum kafir.

Karenanya, Biarawati Muallaf tersebut menyampaikan bahwa asal muasal dari perayaan Tahun Baru Masehi ini sangat penting untuk kita ketahui. Mengapa harus 1 Januari? Dan budaya dari kaum apakah perayaan tersebut? Hal itu dimaksudkan agar kita tidak terjebak oleh ketidaktahuan kita yang akan menyebabkan kita terlempar ke dalam kesesatan.

Sejarah Tahun Baru 1 Januari

Pada buku “The World Book Encyclopedia” tahun 1984, volume 14, halaman 237 tentang Tahun Baru, dikatakan:
“Penguasa Romawi Julius Caesar menetapkan 1 Januari sebagai hari permulaan tahun baru semenjak abad ke 46 SM. Orang Romawi mempersembahkan hari ini (1 Januari) kepada Janus, dewa segala gerbang, pintu-pintu, dan permulaan (waktu).

Bulan Januari diambil dari nama Janus sendiri, yaitu dewa yang memiliki dua wajah – sebuah wajahnya menghadap ke (masa) depan dan sebuahnya lagi menghadap ke (masa) lalu.”

Siapa sosok Dewa Janus? Dalam mitologi Romawi Dewa Janus adalah sesembahan kaum Pagan Romawi, dan pada peradaban sebelumnya di Yunani telah disembah sosok yang sama bernama Dewa Chronos.

Kaum Pagan atau dalam bahasa kita disebut kaum kafir penyembah berhala, hingga kini biasa memasukkan budaya mereka ke dalam budaya kaum lainnya, sehingga terkadang tanpa sadar kita mengikuti mereka.

Sejarah pelestarian budaya Pagan (penyembahan berhala) sudah ada semenjak zaman Hermaic (3600 SM) di Yunani, dan dikawal oleh sebuah persaudaraan rahasia yang disebut sebagai Freemasons.

Freemasons sendiri adalah kaum yang memiliki misi untuk melenyapkan ajaran para Nabi dari dunia ini.

Bulan Januari (bulannya Janus) juga ditetapkan setelah Desember dikarenakan Desember adalah pusat Winter Soltice, yaitu hari-hari kaum pagan penyembah matahari merayakan ritual mereka saat musim dingin.

Puncak Winter Soltice jatuh pada tanggal 25 Desember, dan inilah salah satu dari sekian banyak pengaruh Pagan pada budaya Kristen selain penggunaan lambang salib.

Tanggal 1 Januari sendiri adalah seminggu setelah pertengahan Winter Soltice, yang juga termasuk dalam bagian ritual dan perayaan Winter Soltice dalam Paganisme.

Kaum Pagan sendiri biasa merayakan tahun baru mereka (atau Hari Janus) dengan mengitari api unggun, menyalakan kembang api, dan bernyanyi bersama.

Kaum Pagan di beberapa tempat di Eropa juga menandainya dengan memukul lonceng atau meniup terompet.

Terompet Yahudi

Masyarakat pagan kuno mempercayai tiap 2150 tahun akan terjadi perubahan era. Era Taurus terjadi pada 3400 SM hingga 2150 SM.

Era Taurus disimbolkan dengan kerbau/sapi, menurut Bibel-Perjanjian Lama di tahun inilah terjadi penyembahan kerbau/sapi oleh umat Nabi Musa.

Pada masa penyembahan tersebut berakhir ketika memasuki masa era Aries 2150 SM hingga 1 Masehi. Aries disimbolkan dengan seekor domba dengan tanduk melintir.

Karena itulah hingga saat ini umat Yahudi ortodoks memelihara kuncir di camping telinga yang menyerupai tanduk melintir dan mereka juga menggunakan terompet berbentuk tanduk domba.

Budaya tiup terompet ini diikuti dari budaya Yahudi “Rosh Hashanah” (bahasa Ibrani: ראש השנה) atau tahun baru dalam penanggalan Yahudi.

Dahulu kaum muslimin saat datang ke Madinah, mereka berkumpul seraya memperkirakan waktu sholat yang (saat itu) belum diadzani.

Di suatu hari, mereka pun berbincang-bincang tentang hal itu. Sebagian orang diantara mereka berkomentar, “Buat saja lonceng seperti lonceng orang-orang Nashoro”. Sebagian lagi berkata, “Bahkan buat saja terompet seperti terompet kaum Yahudi”. Umar pun berkata, “Mengapa kalian tak mengutus seseorang untuk memanggil (manusia) untuk sholat”. Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda, “Wahai Bilal, bangkitlah lalu panggillah (manusia) untuk sholat.” (HR. Al-Bukhoriy (604) dan Muslim (377))

Topi Kerucut

Sebagaimana yang telah di tulis Irene Handono dalam buku ‘Menyingkap Fitnah & Teror’. Topi kerucut mempunyai sejarah yang bermula pada masa Muslim Andalusia. Saat itu terjadi pembantaian Muslim Andalusia yang dilakukan oleh Raja Ferdinand dan Ratu Isabela yang dikenal dengan peristiwa Inkuisisi Spanyol.

Inkuisisi dimulai semenjak tahun 1492 dikeluarkannya Dekrit Alhambra yang mengharuskan semua non-Kristen untuk keluar dari Spanyol atau memeluk Kristen.

Muslim yang memilih tetap tinggal dilumpuhkan secara ekonomi dan diisolasi dalam kampung-kampung tertutup yang disebut Gheto untuk memudahkan pengawasan terhadap aktifitas Muslim.

Tidak cukup hanya diisolasi, tapi Muslim Andalusia harus menggunakan pakaian khusus berupa rompi dan topi kerucut yang disebut Sanbenito. Maka untuk membedakan mana yang sudah murtad dan mana yang belum adalah ketika seorang muslim menggunakan baju seragam dan topi berbentuk kerucut dengan nama Sanbenito.

Jadi, Sanbenito adalah sebuah tanda berupa pakaian khusus untuk membedakan mana yang sudah di-converso (murtad) dan mengikuti agama Ratu Isabela.

Topi itu digunakan saat keluar rumah, termasuk ketika ke pasar. Dengan menggunakan sanbenito, mereka aman dan tidak dibunuh.

Ketika orang Barat menggunakan topi ini dalam pesta-pesta mereka, sejatinya mereka merayakan kemenangan atas jatuhnya Muslim Andalusia dan keberhasilan Inkuisisi Spanyol.

Masa demi masa berlalu topi kerucut ini kemudian menjadi budaya yang digunakan oleh umat Islam dalam merayakan tahun baru masehi dan ulang tahun.

Nah… setelah mengetahui sejarah tahun baru dan pernak-pernik yang menyertainya, sebagai seorang muslim kita mesti tahu bagaimana membawa diri dalam menyikapi perayaan tahun baru masehi.

Perayaan tersebut bukanlah berasal dari agama islam dan tidaklah disyariatkan. Oleh karena itu, tidak pantas seorang muslim ikut-ikutan dalam merayakannya sebab Allah subhanahu wa ta’ala telah mengganti hari raya umat islam dengan dua hari raya yang kita boleh bersenang-senang di dalamnya yakni hari raya idhul fitri dan idhul adha.

Tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, beliau mendapati penduduk Madinah merayakan dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah, maka beliau bersabda :

قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ بِهِمَا فِيْ الْجَاهِلِيَّةِ فَقَدْ أَبْدَلَكُمُ اللهُ يَوْمَيْنِ خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ النَّحْرِ وَيَوْمَ الْفِطْرِ

Artinya: “Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya yang kalian bermain-main di dalamnya pada masa jahiliyah, dan Allah telah menggantikan keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian : “Hari raya kurban (idul adha) dan hari berbuka (idul fitri).”
(HR Imam Ahmad, Abu Daud, dan Nasa’i)

Pada perayaan hari raya, di dalamnya terkadang mengandung keyakinan-keyakinan dari agama-agama tertentu, maka tatkala seorang Muslim ikut serta di dalam suatu perayaan atau pesta hari raya orang kafir, maka merupakan suatu kepastian dia akan terjerumus ke dalam kesesatan yang ada pada agama-agama mereka dan mungkin juga akan terjerumus ke dalam kesyirikan. Wal’iyadzubillah

Semoga Allah menjaga kita semua dalam ketaatan dan melindungi diri dari perbuatan maksiat.

Penulis: Indah Wahyu Ningsih
Editor: Sinta Kasim

You may also like

Leave a Comment