FMDKI.OR.ID, Tak jarang terdengar di telinga kita bahwa dakwah adalah tugas mereka yang bergelar Ustaz(ah) atau yang benar-benar mendalami ilmu syar’i.
Begitulah dakwah dikenal oleh sebagian orang sehingga seolah orang awwam tak punya hak melakukannya.
Bahkan tak jarang terdengar dari mereka bahwa yang memiliki ‘sedikit’ ilmu syar’i mengatakan “aku belum sempurna, masih banyak salahnya. Tak pantas untuk berdakwah”.
Padahal dakwah tak melulu soal mimbar, tak juga soal panggung apalagi gelar sebagai Ustaz(ah).
Menurut Drs. Muhammad Al Wakil dalam buku Da’wah Fardiyah dalam Manhaj Amal Islami karya DR. Sayyid Muhammad Nuh, dakwah adalah mengumpulkan manusia dalam kebaikan dan menunjukkan mereka jalan yang benar dengan cara amar ma’ruf dan nahi munkar.
Defenisi ini cukup menyadarkan kita tentang bagaimana dakwah itu. Bahwa dakwah cukup menunjukkan manusia kepada jalan kebenaran tak perlu manusia harus mengikutinya.
Terkadang, hal yang menghalangi kita untuk menunjukkan jalan kebenaran adalah penolakan. “Ngaca dong, situ sudah baik sok menasehati?”, “Situ Ustaz(ah)?”
Feedback seperti ini yang menjadi penghalang seseorang untuk sekadar menunjukkan jalan kebenaran. Ingat, tak harus mereka mengikutimu atau menerima seruanmu lantas baru disebut dakwah. Tak harus!
Menunjukkan manusia kepada jalan kebenaran memiliki makna yang begitu luas. Mengingatkan teman kantor atau teman nongki untuk melaksanakan salat adalah dakwah.
Mengajak saudarimu/kenalanmu/keluargamu untuk bersedekah adalah dakwah. Sekadar ngajak temen ikut kajian adalah dakwah. Share postingan nasihat yang mengingatkan kepada Allah adalah dakwah.
Dakwah tak melulu soal mimbar. Tak juga selalu soal panggung. Dakwah adalah engkau mengingatkan manusia pada ketaatan kepada Allah. Tak perlu menunggu gelar Lc, apalagi Ustaz(ah). Siapapun engkau, berhak menjadi kontributor dakwah.
“Sampaikanlah dariku, meskipun satu ayat, ” (HR. Bukhari no. 3461).
Dari hadist ini, kita belajar bahwa sampaikanlah apa yang dibawa oleh Rasul Allah meskipun hanya 1 ayat saja yang engkau ketahui.
Bukankah engkau mengetahui bahwa sholat adalah wajib? Maka hanya dengan mengingatkan saudarimu untuk melaksanakan sholat, maka engkau telah mengamalkan ayat ini.
Engkau mengetahui bahwa sedekah adalah kebaikan dan dicontohkan oleh Rasulullah, maka sekadar mengajak manusia untuk bersedekah adalah dakwah.
Engkau punya warung makan, di dindingnya terdapat ungkapan untuk mengingatkan tentang membaca basmalah saat makan, itulah dakwah.
Share flayer atau postingan tentang kebaikan, itulah dakwah. Siapapun engkau, apapun profesimu, dakwah tetap bisa engkau kerjakan.
Dakwah adalah cara melipatgandakan kebaikan sebagaimana dijelaskan oleh hadist di bawah ini.
“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya, ” (HR. Muslim no. 1893).
Olehnya, jika ajakan salat kita misalnya disambut dan diamalkan maka kita akan mendapatkan pahala salatnya tanpa sedikitpun mengurangi pahalanya.
Jika ajakan bersedekah membuat mereka bersedekah, maka pahala sedekahnyapun akan mengalir kepada kita.
Mungkin benar kita bukan siapa-siapa juga tak bergelar Ustaz(ah). Tetapi untuk melipatgandakan kebaikan adalah keinginan setiap muslim.
Yuk, berdakwah!
Penulis: Wina Ummu Asma’
Editor: Sinta Kasim
