Home ARTIKELCara Menggapai Perlindungan Allah

Cara Menggapai Perlindungan Allah

by Admin FMDKI News
0 comments

Tauhid adalah pengesaan dan menggikrarkan Allah di pikiran, hati dan lisan. Tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah. Apa pun yang dapat dilihat dan tidak dapat dilihat, semua itu adalah ciptaan Allah.

Saat mengalami nikmat yang melimpah seperti badan sehat dalam keadaan kenyang atau istrahat yang cukup, memiliki harta (berkecukupan) maka bersyukurlah kepada Allah karena semakin sering kita bersyukur kepada-Nya, maka Allah akan menambahkan nikmat-Nya.

Begitu pula dengan musibah, yakinlah bahwa Allah mengirimkan musibah tersebut maka yang bisa menghilangkan hanya Allah semata. Seperti penyakit Corona yang menimpa Indonesia dan beberapa negara lainnya ialah salah satu ciptaan Allah sebagai cobaan bagi umat manusia, agar manusia tidak terus-menerus dalam kondisi lalai. Karena terkadang ketika dalam keadaan sehat, kemungkinan manusia akan lalai dan lupa bersyukur kepada-Nya.

Allah menciptakan hal-hal tersebut untuk menunjukkan kepada manusia tentang keberadaan-Nya bahwa ada Allah yang menciptakan Corona. Virus tak kasat mata yang hanya bisa diketahui ketika menggunakan alat canggih.

Virus ini sudah menelan banyak korban, ada yang sempat dirawat ataupun langsung meninggal dunia, sehingga menjadi hal menakutkan bagi manusia. Sedangkan jika kita kembali bertauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa Corona dan penyakit-penyakit lainnya Allah yang menciptakan maka kita akan berserah diri kepada-Nya, sebab Dia jualah yang akan menyelamatkan kita dari penyakit-penyakit tersebut.

Ketika kita mengalami sesuatu maka katakanlah, “Qadarullah Allah menakdirkan dan Allah melakukan apa yang diinginkan-Nya”. Jangan megatakan “seandainya” karena akan membuka pintu setan.

Hal seperti ini seringkali terjadi dalam aqidah Islam. Jadi kita harus yakin bahwa Allah sudah menakdirkan sebagai bentuk cobaan dan tugas kita hanya menerima.

Sejatinya manusia memiliki dua sayap. Pertama, syukur ketika ada nikmat. Kedua, sabar pada saat cobaan datang. Maka dari itu, harus ada keseimbangan antara menerima dan sabar sehingga ada ketenangan dalam menghadapi cobaan kehidupan.

Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mendatangkan cobaan kepada kita, sebenarnya Allah ingin agar kita kembali kepada-Nya. Lalu, bagaimana kita kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala?

Allah berfirman dalam QS. Ar-Ra’d ayat 1-3:

الۤمّۤرٰۗ تِلْكَ اٰيٰتُ الْكِتٰبِۗ وَالَّذِيْٓ اُنْزِلَ اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ الْحَقُّ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يُؤْمِنُوْنَ

Terjemahnya: “(1) Alif Lam Mim Ra. Ini adalah ayat-ayat Kitab (al-Qur’an). Dan (kitab) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari tuhanmu itu adalah benar; tetapi kebanyakan manusia tidak beriman (kepadanya).”

اَللّٰهُ الَّذِيْ رَفَعَ السَّمٰوٰتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَۗ كُلٌّ يَّجْرِيْ لِاَجَلٍ مُّسَمًّىۗ يُدَبِّرُ الْاَمْرَ يُفَصِّلُ الْاٰيٰتِ لَعَلَّكُمْ بِلِقَاۤءِ رَبِّكُمْ تُوْقِنُوْنَ

Terjemahnya: “(2) Allah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menundukkan matahari dan bulan; masing-masing beredar menurut waktu yang telah ditentukan. Dia mengatur urusan (makhluk-Nya), dan menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), agar kamu yakin akan pertemuan dengan Tuhanmu.”

وَهُوَ الَّذِيْ مَدَّ الْاَرْضَ وَجَعَلَ فِيْهَا رَوَاسِيَ وَاَنْهٰرًا ۗوَمِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِ جَعَلَ فِيْهَا زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ يُغْشِى الَّيْلَ النَّهَارَۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

Terjemahnya: “(3) Dan Dia yang menghamparkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai di atasnya. Dan padanya Dia menjadikan semua buah-buahan berpasang-pasangan; Dia menutupkan malam kepada siang. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir.”

Dari ayat di atas kita bisa tahu bahwa Allah yang mengatur matahari dan bulan, semuanya beredar sesuai waktunya. Planet berputar sesuai orbitnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan bahwa Ia mengatur segala urusan makhluk ciptaan-Nya. Sebagaimana kita ketahui dan yakini, di muka bumi ini semua yang bisa kita lihat maupun yang tidak terlihat adalah ciptaan Allah.

Tidak ada yang mengadakan atau tidak ada menghilangkan kecuali atas kehendak-Nya. Apa yang telah menimpa kita hari ini, Allah sudah tentukan maka kita harus menerima dan bersabar. Apa yang diberikan oleh-Nya adalah nikmat maka kita patut bersyukur.

وَلَقَدْ اَرْسَلْنَآ اِلٰٓى اُمَمٍ مِّنْ قَبْلِكَ فَاَخَذْنٰهُمْ بِالْبَأْسَاۤءِ وَالضَّرَّاۤءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُوْنَ

Terjemahnya: “Dan sungguh, Kami telah mengutus (para rasul) kepada umat-umat sebelum engkau, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kemelaratan dan kesengsaraan, agar mereka memohon (kepada Allah) dengan kerendahan hati”. (QS. Al-An’am: 42).

Dalam Islam kita dianjurkan berdoa sebelum beraktivitas. Doa sebelum makan, doa keluar rumah, doa sebelum tidur, dan lainnya.

Doa adalah berhubungan dengan Allah dengan komunikasi secara langsung antara hamba dan tuhannya.

Munculnya penyakit ini, bisa jadi karena Allah ingin menguji kita. Allah mau melihat bagaimana keadaan dan sampai batas mana manusia kesulitan mengatasinya. Supaya manusia menyadari bahwa kita adalah hamba-Nya. Dengan kesadaran itu, manusia hanya memohon kepada Allah semata.

Ketika kita merasa mampu dengan ujian yang diberikan, Allah akan tambahkan yang lebih dari itu sampai kita memohon kepada-Nya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Apabila seseorang keluar dari rumahnya kemudian dia membaca do’a

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺗَﻮَﻛَّﻠْﺖُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ، ﻟَﺎ ﺣَﻮْﻝَ ﻭَﻟَﺎ ﻗُﻮَّﺓَ ﺇِﻟَّﺎ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ

Artinya: “(Dengan menyebut nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allah).” Maka disampaikan kepadanya, “Kamu diberi petunjuk, kamu dicukupi kebutuhanmu, dan kamu dilindungi ” Seketika itu setan-setan pun menjauh darinya. Lalu salah satu setan berkata kepada temannya, ’Bagaimana mungkin kalian bisa mengganggu orang yang telah diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, Shahih).

Rasulullah pernah bersabda bahwa Allah tidak memberikan suatu penyakit kecuali bersama dengan obatnya maka berobatlah wahai hamba-Ku. Dengan kata lain, selain berdoa Allah juga menyuruh kita untuk berobat, baik tradisional maupun medis selama itu tidak menyekutukan Allah. Berobat adalah salah satu bentuk ikhtiar kita kepada-Nya dan berdoa adalah penunjangnya.

Mari lindungi diri-diri kita dari berbagai keburukan dengan mengamalkan doa tersebut, agar senantiasa mendapat perlindungan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Penulis: Megawati

You may also like

Leave a Comment