Home OPINIKedzaliman dan Maksiat Sebab Terjadinya Gempa?

Kedzaliman dan Maksiat Sebab Terjadinya Gempa?

by Admin FMDKI News
0 comments

Negeriku di goncang bencana, di bulan Desember yang lalu berbagai bencana dan musibah menimpa negeri pertiwi, mulai dari letusan gunung semeru, banjir, dan gempa. Sederet peristiwa ini seharusnya menyadarkan kita agar intropeksi diri baik masyarakat dan pemerintah.

Tepat pada sabtu (4/12/2021) Gunung Semeru yang berada di Lumajang Jawa Timur mengalami erupsi pada sore hari dengan ketinggian erupsi mencapai 3.676 mater dari permukaan laut (mdpl), yang mengeluarkan guguran panas dan hujan abu vulkanik yang sangat tebal sehingga mengakibatkan pemukiman dan rumah warga tertimbun dan menelan korban hingga puluhan jiwa.

Begitupun dengan bencana banjir yang membuat beberapa kota dan daerah di Indonesia terendam seperti NTT, Sulsel, Kalimantan, Papua, dan lainnya. Banjir tersebut membuat air masuk kerumah warga. Bahkan tidak sedikit warga yang mengungsi seperti yang terjadi di kecamatan manggala kota Makassar Sulsel pada selasa (7/12/2021). Banjir yang lebih para juga terjadi di soppeng, bahkan membuat beberapa rumah warga hanyut terbawa arus sungai.

Pada selasa (14/12/2021) kembali terjadi bencana berupa gempa bumi yang berpusat di Larantuka Nusa Tenggara Timur dengan kedalaman 12 kilometer. Getaran gempa tersebut terasa sampai Maluku, NTB, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Kekuatan gempa mencapai 7.5 magnitudo yang membuat beberapa bangunan rumah dan pagar di Kabupaten Selayar Sulsel rubuh.

Sepanjang tahun 2021 telah terjadi 2.841 kejadian bencana alam di Indonesia. Bencana alam tersebut meliputi banjir, tanah longsor, angin puting beliung, dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Bahkan untuk awal November 2021, terjadi 424 kejadian bencana yang menyebabkan 32 meninggal dan hilang serta 62 orang luka-luka. Hal itu diungkapkan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Suharyanto sebagaimana dilansir di beritasatu com.

Memasuki awal-awal tahun 2022, berbagai bencana kembali menimpa negeri ini. Diketahui sebelumnya, gempa bumi tersebut berkekuatan 6,7 SR mengguncang wilayah Pulau Jawa bagian barat pada Jum’at (14/1/2021) sore, pukul 16.05 WIB. BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) menginformasikan, titik pusat gempa ini terjadi di laut 52 Km arah Barat Daya wilayah Sumur, Banten.

Gempa dengan kedalaman 10 Km itu terasa di wilayah Banten, Lampung, Jabodetabek, Bandung, hingga Tasikmalaya. Akibat yang ditimbulkan dari gempa ini puluhan rumah warga, fasilitas umum seperti sekolah dan kantor retak dan roboh.

Di tengah banyaknya peristiwa bencana baik di akhir tahun 2021 dan awal tahun 2022, berbagai teori dan pendapat mulai bemunculan baik dari segi demografis, sains dan lainnya. Namun, sebagai seorang muslim tidak cukup memandang segala peristiwa tersebut dengan sudut pandang sains, tapi juga harus di tinjau dari sudut pandang Islam.

Berbagai bencana dan peristiwa yang terjadi ini, seharusnya menjadi intropeksi bagi masyarakat dan pemimpin negeri ini. Jangan-jangan bencana ini adalah balasan atas segala kerusakan yang dilakukan masyarakat dan pemimpinnya. Kerusakan moral dimana-mana, kesyirikan dan kemaksiatan yang terus merajalela bahkan perzinahan yang seolah dihalalkan.

Taubatlah Para Penguasa

Kita sangat menyakini bahwa tidak ada peristiwa yang terjadi dimuka bumi ini kecuali atas kehendak Allah subhanahu wata’ala. Namun, dalam kehidupan ini ada hukum kausalitas atau sebab akibat yang bisa menjadi penyebab atas terjadinya berbagai musibah tersebut, dan salah satu penyebab datangnya musibah adalah perbuatan dosa.

Terjemahnya: “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuraa: 30)

Wahai para penguasa dan pemangku jabatan, yakin dan takutlah kepada Allah. Bahwa setiap perbuatan yang kalian lakukan akan dimintai pertanggungwaban oleh Allah diakhirat kelak.

Ketidakadilan yang terjadi ditengah masyarakat, kezhaliman yang sangat nyata engkau lakukan kepada para tokoh dan ulama, yang engkau penjarakan tanpa kesalahan dan fakta hukum yang jelas, begitupun dengan kemungkaran dan kesyirikan yang engkau lihat dan ketahui, namun engkau biarkan begitu saja tanpa engkau cegah.

Bukankah ini adalah tanggungjawab besar yang ada dipundakmu, tugas pemimpin bukan sekedar memerintah dan mengarahkan tapi menghadirkan rasa keadilan bagi seluruh masyarakat, tidak timbang pilih dalam menegakkan hukum. Tugas pemimpin yang lain adalah mencegah seluruh kemungkaran dan tidak berbuat dzalim kepada siapapun walau mereka berbeda pandangan bahkan mengkritikmu.

Taubatlah wahai para penguasa dan para pemangku jabatan. Hilangkan kedengkian, kesombongan, dan keserakahan dalam dirimu. Musibah dan bencana yang menimpa negeri ini, bisa jadi disebabkan karena dosa-dosa yang engkau perbuat. Jauhkan dirimu dari bermaksiat kepada Allah, dzhalim kepada rakyat dan tidak menunaikan hak dan kewajiban rakyatmu.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Tidaklah musibah tersebut turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah bisa musibah tersebut hilang melainkan dengan taubat.” (Al Jawabul Kaafi, hal. 87).

Taubatlah Wahai Masyarakat

Selain penguasa yang harus bermuhasabah, masyarakat dan setiap pribadi kita juga harus bertaubat atas segala dosa dan maksiat yang kita kerjakan. Karena, tidak ada jalan lain agar negeri kita dilindungi dai musibah kecuali dengan taubat kepada Allah.

Menjahui segala kesyirikan, dan perbuatan-perbuatan yang dapat merusak aqidah. Menjaga diri dari perbuatan maksiat dan mencegah terjadinya kemaksiatan kepada generasi muda, baik pacaran bahkan perzinahan.

Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah mengatakan, “Tidaklah disandarkan suatu kejelekan (kerusakan) melainkan pada dosa karena semua musibah, itu semua disebabkan karena dosa.” (Latho’if Ma’arif, hal. 75).

Oleh karena itu, sudah sepatutnya setiap individu merenungkan hal ini. Ketahuilah bahwa setiap musibah yang menimpa kita dan datang menghampiri negeri ini, itu semua disebabkan karena dosa dan maksiat yang kita perbuat.

Betapa banyak kesyirikan merajalela di mana-mana, dengan bentuk tradisi ngalap berkah, memajang jimat untuk memperlancar bisnis dan karir, menyimpan sesajen kepada suatu tempat untuk menolak bencana dan lainnya, mendatangi kuburan para wali untuk dijadikan perantara dalam berdoa. Juga kaum muslimin tidak bisa lepas dari tradisi yang membudaya yang berbau agama, namun sebenarnya tidak ada tuntunan sama sekali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kita dapat melihat bahwa masih banyak di sekitar kita yang shalatnya bolong-bolong. Padahal para ulama telah sepakat sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Qoyyim bahwa meninggalkan shalat termasuk dosa besar yang lebih besar dari dosa besar yang lainnya yaitu lebih besar dari dosa berzina, berjudi dan minum minuman keras. Begitu juga perzinaan dan perselingkuhan semakin merajalela di akhir-akhir zaman ini. Itulah berbagai dosa dan maksiat yang seringkali diterjang. Itu semua mengakibatkan berbagai nikmat lenyap dan musibah tidak kunjung hilang.

Ibnu Qoyyim al-Jauziyah rahimahullah mengatakan, “Di antara akibat dari berbuat dosa adalah menghilangkan nikmat dan akibat dosa adalah mendatangkan bencana (musibah). Oleh karena itu, hilangnya suatu nikmat dari seorang hamba adalah karena dosa. Begitu pula datangnya berbagai musibah juga disebabkan oleh dosa.” (al-Jawabul Kaafi, hal. 87)

Agar berbagai nikmat tidak lenyap, agar terlepas dari berbagai bencana dan musibah yang tidak kunjung hilang, hendaklah setiap diri pribadi kita memperbanyak taubat yang nashuh (yang sesungguhnya). Karena dengan beralih kepada ketaatan dan amal sholeh, musibah tersebut akan hilang dan berbagai nikmat pun akan datang menghampiri. Allah Ta’ala berfirman,

Terjemahnya: “(Siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu ni’mat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-Anfaal: 53).

Imam Ibnu Qayyim dalam kitabnya al-Jawabul Kafi mengisahkan tentang Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu anha yang memberikan kita pelajaran tentang sebab terjadinya gempa.

Suatu saat Anas bin Malik bersama seseorang lainnya mendatangi Aisyah. Orang yang bersama Anas itu bertanya kepada Aisyah: Wahai Ummul Mukminin jelaskan kepadaku tentang gempa.

Aisyah menjelaskan, “Jika mereka telah menghalalkan zina, meminum khamar dan memainkan musik. Allah azza wajalla murka di langit-Nya dan berfirman kepada bumi: “goncanglah mereka. Jika mereka taubat dan meninggalkan (dosa), atau jika tidak, Dia akan menghancurkan mereka.

Orang itu bertanya kembali: Wahai Ummul Mukminin, apakah itu adzab bagi mereka?

Aisyah menjawab, “Nasehat dan rahmat bagi mukminin. Adzab dan kemurkaan bagi kafirin.” Anas berkata: Tidak ada perkataan setelah perkataan Rasul yang paling mendatangkan kegembiraan bagiku melainkan perkataan ini.

Sangat jelas penjelasan Ummul Mukminin Aisyah tentang penyebab spiritual gempa. Tiga dosa yang semuanya marak di zaman kita ini. Khusus untuk dosa yang pertama, Aisyah menggunakan kata istabahu yang artinya masyarakat telah menganggap zina itu mubah (perkare biasa). Zina tidak hanya dilakukan, tetapi telah dianggap mubah. Dari ucapan, tindakan, kebijakan sebuah masyarakat boleh dibaca bahwa mereka yang telah meremehkan dosa zina, memang layak dihukum dengan gempa.

Terjemahnya: Dan katakanlah sebagaimana Adam berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (Qs. Al-A’raf:23).

Oleh sebab itu, sudah seharusnya peristiwa demi peristiwa yang menimpa negeri ini menjadikan kita kembali kepada jalan kebenaran. Para penguasa dan pemangku jabatan melaksanakan tugas dan kewajibannya kepada masyarakat dengan baik, para individu dan masyarakat juga menjauhi segala perbuatan-perbuatan maksiat dan dosa baik untuk diri pribadi dan yang terjadi dilingkungan sekitarnya.

Semoga Allah melindungi negeri yang kita cintai ini dari segala musibah dan bencana, yang dengannya kita bisa meraih kehidupan yang lebih baik dan penuh kebahagian.

رَبِّ اجْعَلْ هَـذَا الْبَلَدَ آمِناً

Ya Tuhanku, semoga Engkau menjadikan negeri ini, negeri yang aman.

***********

Penulis: Muhammad Akbar, S.Pd., M.Pd
(Aktivis Media Islam, Penulis Buku, Pendiri Madani Institute, Pimpinan Mujahid Dakwah Media dan Pembina Daar Al-Qalam)

Editor: Sinta Kasim

You may also like

Leave a Comment