Hijrah adalah kata yang tidak asing lagi di telinga kita. Hijrah di sini maksudnya meninggalkan segala hal-hal buruk menuju ke hal-hal yang baik.
Akhir-akhir ini sudah banyak saudara saudari kita yang hijrah, di mana mereka meninggalkan kebiasaan buruk atau masa jahiliah mereka ke masa baru yang lebih baik.
Dari yang dulunya suka ke diskotik sekarang lebih suka ke masjid, yang dulunya suka umbar aurat sekarang sudah menutup auratnya, yang suka mengata-ngatai orang sekarang lebih sering memberi nasehat, dan lain sebagainya. Mereka telah meninggalkan hal-hal buruk yang biasa mereka lakukan meski perlahan dan berat.
Selain dari masa lalu yang berbeda, versi hijrahnya pun juga berbeda-beda. Ada yang hijrahnya karena menginginkan si fulan/fulanah yang paham agama, ada yang karena masuk dalam sebuah lembaga/organisasi Islam, masuk dalam sekolah atau kampus Islam, dipaksa oleh keadaan, ikut tren dan tidak mau ketinggalan zaman, mau dikatakan orang yang sholeh/sholehah, dan masih banyak alasan lainnya.
Mereka melupakan tujuan utama dari hijrah yakni untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik dari sebelumnya dengan berusaha mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya hingga sampai ke tujuan yang mulia dan utama yaitu meraih ridho-Nya.
Ketika hijrah diniatkan karena untuk mencapai ridho Allah maka apapun cobaan dan bagaimana pun cacian serta makian yang kita hadapi, maka semua itu tidak akan membuat kita lemah. Bahkan dengan semua cobaan, cacian, dan makian itu kita akan menjadi lebih kuat. Karena kita yakin bahwa Allah hanya menguji hamba yang beriman kepada-Nya.
Bukankah hanya pohon yang berbuah manis yang akan dilempari batu? Bukankah hanya pohon yang lebih tinggi yang akan diterpa angin yang lebih kuat pula? Seperti itulah permisalan seorang hamba yang beriman. Mereka akan diberi ujian untuk mengukur tingkat keimanannya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَحَسِبَ النَّا سُ اَنْ يُّتْرَكُوْۤا اَنْ يَّقُوْلُوْۤا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَـنُوْنَ
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman” dan mereka tidak diuji?” (QS. al-‘Ankabut: 2)
Dari ayat tersebut sudah jelas bahwa Allah akan menguji hamba-Nya untuk melihat apakah mereka benar-benar beriman atau tidak. Dan Allah tidak akan memberi ujian diluar batas kemampuan kita. Dalam QS. al-Baqarah: 286, Allah berfirman:
لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا ۗ
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya….” (QS. al-Baqarah: 286).
Selain itu, kita harus ingat bahwa hasil dari segala sesuatu yang dikerjakan tergantung dari niat. Kita niatkan untuk bisa mendapatkan pasangan yang didambakan maka hal tersebut yang akan didapat.
Kita niatkan untuk bisa masuk dalam suatu lembaga, organisasi, sekolah, atau kampus Islam maka hal itu juga akan akan didapatkan. Begitu pun ketika niat untuk mendapatkan gelar sholeh/sholehah maka kita akan mendapatkannya. Semua yang kita niatkan itu akan kita dapatkan.
Tetapi pertanyaannya, apakah kita akan Istiqomah? Apakah niat yang bermacam tersebut akan membuat manusia bertahan di jalan hijrah? Jawabannya tidak. Buktinya banyak yang hijrah karena ingin mendapatkan pasangan yang didambakannya, namun setelah menikah mereka jadi bosan dan menganggap hijrah itu beban.
Contohnya laki-laki yang sering ke masjid supaya bisa dilihat oleh wanita yang diinginkannya akhirnya setelah menikah dengan wanita itu dia sudah bermalasan ke masjid.
Selain itu ada yang hijrah karena ingin masuk dalam lembaga, organisasi, sekolah, atau kampus Islam. Mereka melaksanakan peraturan-peraturan yang ada didalamnya. Dari yang sholatnya bolong-bolong sudah jadi lebih rajin, yang tidak pernah membaca al-Qur’an akhirnya jadi lebih sering dibaca, dan wanita yang sering umbar aurat dan yang memakai jilbab dengan bermacam modelnya, tidak sesuai tuntunan syari’at, akhirnya bisa lebih sempurna menutup aurat.
Semua dilakukan dengan semangat, tetapi karena niatnya yang salah yakni karena ikut-ikutan, cari ketenaran, atau ingin menduduki sebuah jabatan, maka semangatnya pun kian melemah seiring berjalannya waktu. Ketika sudah merasa bosan, lelah, dan tidak mendapatkan jabatan yang mereka inginkan di lembaga atau organisasi Islam impiannya, maka merekapun kembali ke masa jahiliahnya.
Kembali malas membaca al-Qur’an, malas ke masjid, bagi muslimah yang sudah menggunakan jilbab syar’i dari yang panjangnya dari lutut, naik sampai ke dada, kemudian naik lagi sampai keleher dan bahkan ada yang melepas dan tidak menggunakannya lagi. Nauzubillah.
Itulah pentingnya kita meluruskan niat. Ketika niat kita sudah lurus dan sudah benar yakni untuk meraih ridho-Nya, maka langkah selanjutnya berkumpullah dengan orang-orang sholeh/sholehah dan mengikuti majelis-majelis ilmu. Karena meskipun niat kita sudah benar tetapi karena masih sering berkumpul dengan teman-teman yang dulu, maka lambat laun kita akan kembali kemasa-masa buruk tersebut, sehingga menjadi boomerang bagi diri kita.
Tidak ada larangan untuk kembali berteman dengan mereka, akan tetapi kita harus membatasi agar setiap niat hijrah tetap terjaga.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang saleh dan orang yang buruk, bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu, engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak sedap.” (HR. Imam Bukhari).
Hadis di atas adalah perumpamaan bahwa lingkungan pergaulan bisa mempengaruhi kehidupan kita. Jadi carilah teman-teman yang bisa menuntun kejalan yang diridhoi-Nya dan bisa membantu kita istiqomah.
Ketika telah memutuskan untuk berhijrah, maka kita harus siap dengan segala konsekuensinya. Cara menghadapi itu semua salah satunya dengan memiliki teman yang bisa menguatkan. Maka carilah teman sholih itu sekarang, jangan menunda-nunda! Karena teman sholih di dunia dapat menyelamatkan di kehidupan akhirat. Insya Allah.
Penulis: Winda Yuliana
Editor: Sinta Kasim
