Home ARTIKELJari Diri Pemuda Muslim (Bag 1)

Jari Diri Pemuda Muslim (Bag 1)

by Wahyuni
0 comments

Jika melihat sejarah di masa kegemilangan Islam, di mana menerapkan aturan yang bersumber dari al-Qur’an dan assunah, darinya lahirlah generasi pemuda-pemuda yang ikhlas, merdeka, dan penuh amanah. Menjadi sosok ulama sekaligus ilmuan, seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, al-Khawarizmi, al-Zahrawi, dan Jabir Ibn Hayyan. Mereka Memiliki tujuan hidup yang jelas yaitu untuk beribadah.

Selama beberapa abad menjadi umat yang paling teguh dalam berpegang pada agama, paling luhur akhlaknya, dan paling sempurna kebudayaannya. Semua keunggulan itu menjadikan mereka sebagai pemimpin dunia dengan wawasan luas dalam bidang politik, sosial, bahkan pemikiran. Namun, melihat kondisi pemuda sekarang, mereka seolah kehilangan identitasnya, kehilangan jati dirinya sebagai muslim yang memiliki karakter Islam.

Pemuda hari ini menjadi sosok yang keras mental, kering jiwanya, jumud dalam mencari solusi, dan seringkali jalan pintas yang dicari. Atas nama kebebasan berekspresi pemuda ugal-ugalan di jalan dengan alasan mencari jati diri, pacaran, perzinahan, narkoba, dan sebagainya menjadi kegiatan sehari-hari.

Hari ini kita jauh lebih mudah mencari pemuda pandai menyanyi daripada pemuda pandai mengaji, lebih mudah mencari pemuda yang meniru artis-artis Korea daripada meniru Nabi.

Tidak sedikit pemuda muslim hari ini telah terbelenggu dunia. Kita sangat prihatin dan sangat menyesal dengan hidup yang diharamkan itu melingkupi sebagian besar umat Islam.

Fenomena hari ini persis seperti yang pernah diperingatkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Beliau bersabda:

Artinya: “Tidak akan terjadi kiamat sebelum umatku mengikuti jejak umat beberapa abad sebelumnya, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta”. Ada orang yang bertanya, “Ya Rasulullah, mengikuti orang Persia dan Romawi?”Jawab Beliau, “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR. al-Bukhari dari Abu Hurairah).

Hadis tersebut menggambarkan suatu zaman di mana sebagian besar umat Islam telah kehilangan kepribadian Islamnya, kehilangan jati dirinya karena jiwa mereka telah terisi oleh jenis kepribadian lain.

Mereka kehilangan gaya hidup hakiki karena telah mengadopsi gaya hidup jenis lain. Sebuah kehilangan yang patut ditangisi hari ini adalah kehilangan kepribadian dan gaya hidup Islami. Sebab apalah artinya mengaku sebagai orang Islam kalau gaya hidup tak lagi Islami malah persis seperti orang kafir? Inilah bencana kepribadian yang paling besar yang dialami banyak pemuda muslim hari ini.

Allah Subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

ظَهَرَ الْفَسَا دُ فِى الْبَرِّ وَا لْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّا سِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

Terjemahnya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. al-Rum: 41).

Salah satu tokoh non muslim yaitu William Ewart Gladstone (1809-1898) mantan PM Inggris mengatakan: “Percuma kita memerangi umat Islam dan tidak akan mampu menguasainya selama di dalam dada pemuda-pemuda Islam bertengger al-Qur’an. Tugas kita sekarang adalah mencabut al-Qur’an dari hati mereka baru kita menang dan menguasai mereka. Sekarang minuman keras dan musik lebih menghancurkan umat Muhammad daripada seribu meriam. Oleh karena itu, tanamkanlah ke dalam hati mereka rasa cinta terhadap materi dan seks”.

Pernyataan Gladstone sudah berlalu lebih dari 200 tahun, tapi para phobia Islam melestarikannya sebagai metode efektif dan implementatif untuk menyimpangkan para pemuda dari jalan Allah bahkan menjadi penentang Syariat Islam. Inilah kenyataan pahit itu. Musuh-musuh Islam sejak zaman dahulu bahu-membahu dan secara terus menerus ingin memadamkan cahaya Islam, ingin merusak para pemuda yang menjadi agent of change.

Orang-orang kafir sadar betul terhadap potensi para pemuda, sehingga segala cara mereka lakukan untuk menghancurkan umat Islam. Untuk itu maka hendaknya para pemuda harus menyadari bahwa mereka adalah harapan umat. Mereka adalah penentu masa depan peradaban Islam, jika baik pemudanya maka baik pula peradabannya, namun jika rusak para pemudanya maka rusaklah peradabannya.

Hilangnya jati diri pemuda Islam hari ini akan menjadi masalah besar untuk tegakkan kembali peradaban Islam. Tiada solusi lain yang harus dijalankan hari ini kecuali dengan mengembalikan pemuda muslim kepada jati dirinya yang sesungguhnya.

Lalu bagaimanakah Islam membentuk jati diri pemuda muslim? Bagaimana caranya agar dia bisa mencapai tingkat pembentukan paling tinggi, yang tidak bisa dicapai sepanjang sejarah dalam kehidupan pemuda kecuali dalam agama ini? Berikut beberapa jati diri pemuda muslim yang perlu kita ketahui:

1) Pemuda yang Memiliki Akidah yang Kokoh

Akidah merupakan dasar atau landasan dan wujud dari akidah itu sendiri ada tauhid atau mengesakan Allah Subhanahu Wa Ta’alla.

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Terjemahnya: “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. al-Dzariyat: 56).

Seorang pemuda muslim dalam hidupnya bila tanpa landasan tauhid yang kokoh dan kuat adalah nol, betapa pun hebatnya dia.

Satu hal yang membedakan pemuda muslim dengan pemuda lainnya, ialah imannya yang mendalam kepada Allah dan keyakinannya bahwa apa pun peristiwa yang terjadi di alam ini dan apa pun yang terjadi pada diri manusia adalah berkat qadha’ dan takdir Allah. Dia yakin bahwa apa yang menimpa manusia bukan untuk membuatnya merasa bersalah, dan kesalahan yang dilakukannya bukan dimaksudkan untuk menimpakan musibah kepadanya.

Kewajiban yang harus dilakukan manusia dalam kehidupan ini ialah berusaha meniti jalan kebaikan, mencari faktor-faktor yang bisa mendatangkan amal shaleh, apakah itu dalam masalah agamanya maupun dunianya, sambil bertawakal dengan sebenar-benarnya tawakkal kepada Allah, pasrah kepada-Nya, yakin bahwa manusia senantiasa membutuhkan pertolongan, bimbingan, dan ridha-Nya.

Perhatikan kisah Bilal bin Rabah, salah satu budak yang masuk ke dalam golongan assabiqunal awwalun atau golongan orang-orang yang pertama masuk Islam. Di mana pada waktu itu Bilal merupakan seorang budak dari Umayyah bin Khallaf yang berasal dari Bani Jum’ah. Majikannya ini merupakan salah satu dari orang yang membenci ajaran Islam pada waktu itu.

Saat Umayyah bin Khallaf mengetahui bahwa salah satu budaknya mengikuti ajaran Islam ia begitu sangat murka dan meminta serta memaksa agar Bilal keluar dari Islam. Akan tetapi tiap ajakan yang diminta majikannya itu tidak ia pedulikan. Bilal konsisten dengan keimanan dan keislamannya.

Karena saking marahnya, Umayyah menyiksan Bilal dengan membawanya ke tempat yang panas dengan terik matahari yang amat menyengat. Bilal dilentangkan di tengah-tengah padang pasir dan di atas perutnya diletakkan batu besar. Bilal kesakitan, dengan selalu membaca “Ahad..Ahad..Ahad…”

Pada hari berikutnya Bilal kembali disiksa oleh majikannya karena ia masih tidak mau untuk keluar dari Islam. Hingga akhirnya datanglah Abu Bakar dan ia menebus Bilal bin Rabbah serta memerdekakannya. (Buku 365 Kisah Teladan Islam karya Ariani Syurfah halaman 32).

Kisah ini menyajikan satu gambaran yang sangat mengagumkan di hadapan pemuda muslim, tentang dalamnya iman kepada Allah dan tawakkal serta kepasrahan yang utuh kepada-Nya. Bilal rela disiksa oleh majikannya hanya karena konsisten dengan keimanan dan keislamannya.

Andaikan tidak ada iman yang mendalam dan memenuhi hati Bilal, andaikan tidak ada tawakal utuh kepada Allah yang menghiasi perasaannya, tak akan dia sanggup menghadapi keadaannya pada saat itu dan tentu dia akan roboh tak berdaya, serta meninggalkan Islam.

Akidah pemuda muslim yang lurus, bersih, dan suci tidak akan terlumuri noda kebodohan, kebeningannya tidak akan menjadi keruh oleh tipuan khurafat dan semangatnya tidak akan pernah padam oleh bayang-bayang keraguan. Ini adalah aqidah yang ditegakkan di atas iman kepada Allah yang Maha Esa, Yang Maha Tinggi dan Yang Berkuasa atas segala sesuatu, yang di Tangan-Nya pula kembalinya segala urusan.

قُلْ مَنْ بِۢيَدِهٖ مَلَكُوْتُ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُوَ يُجِيْرُ وَلَا يُجَا رُ عَلَيْهِ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ سَيَقُوْلُوْنَ لِلّٰهِ ۗ قُلْ فَاَ نّٰى تُسْحَرُوْنَ

Terjemahnya: “Katakanlah, Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan segala sesuatu. Dia melindungi, dan tidak ada yang dapat dilindungi (dari azab-Nya), jika kamu mengetahui? Mereka akan menjawab, (Milik) Allah. Katakanlah, (Kalau demikian), maka bagaimana kamu sampai tertipu?” (QS. al-Mu’minun: 88-89).

Iman yang mendalam, bersih dan jelas ini menambah kepribadian pemuda muslim semakin kuat, sadar, dan matang. Dia melihat hakikat kehidupan ini sebagai tempat uijian dan menentukan pilihan, lalu hasilnya pasti akan muncul pada suatu hari yang tidak disangsikan kedatangannya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلِ اللّٰهُ يُحْيِيْكُمْ ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ يَجْمَعُكُمْ اِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِ لَا رَيْبَ فِيْهِ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّا سِ لَا يَعْلَمُوْنَ

Terjemahnya: “Katakanlah, Allah yang menghidupkan kemudian mematikan kamu, setelah itu mengumpulkan kamu pada hari Kiamat yang tidak diragukan lagi; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. al-Jasiyah: 26).

اَفَحَسِبْتُمْ اَنَّمَا خَلَقْنٰكُمْ عَبَثًا وَّاَنَّكُمْ اِلَيْنَا لَا تُرْجَعُوْنَ

Terjemahnya: “Maka apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. al-Mu’minun: 115)

Pada hari itu setiap manusia akan diberi balasan sesuai dengan amalnya. Jika berbuat baik, maka dia mendapatkan balasan kebaikan, dan jika berbuat buruk, maka dia mendapatkan balasan yang buruk pula, dan dia tidak akan dirugikan sedikit pun.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعَ طَرَآئِقَ ۖ وَمَا كُنَّا عَنِ الْخَـلْقِ غٰفِلِيْنَ

Terjemahnya: “Dan sungguh, Kami telah menciptakan tujuh (lapis) langit di atas kamu, dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan kami.” (QS. al-Mu’minun: 17)

Timbangan hisab benar-benar detail dan teliti, merupakan keuntungan ataukah kemalangan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَا لَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗ ۗ

Terjemahnya: “Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. al-Zalzalah: 7)

Pada hari ini tidak ada yang lolos dari perhatian Allah Rabbul-lzzati wal-Jalali, sekalipun hanya seberat biji sawi. Firman-Nya:

وَنَضَعُ الْمَوَا زِيْنَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيٰمَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَـفْسٌ شَيْـئًـا ۗ وَاِ نْ كَا نَ مِثْقَا لَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ اَتَيْنَا بِهَا ۗ وَكَفٰى بِنَا حٰسِبِيْنَ

Terjemahnya: “Dan Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tidak seorang pun dirugikan walau sedikit; sekalipun hanya seberat biji sawi, pasti Kami mendatangkannya (pahala). Dan cukuplah Kami yang membuat perhitungan.” (QS. al-Anbiya: 47).

Tidak dapat diragukan, jika pemuda muslim yang memiliki aqidah yang kokoh dan kuat mau memperhatikan makna yang terkandung di dalam ayat-ayat yang jelas maknanya ini, menyimak dengan mata hatinya tentang hari yang sangat menegangkan itu, tentu dia akan langsung menghadap kepada Allah dengan penuh ketaatan, kepasrahan dan rasa syukur, segera mempersiapkan diri untuk menghadapi hari itu, dengan mengerjakan amal-amal shaleh.

____________

Penulis: Wahyuni (Pengurus LDK MPM UIN Makassar)
Editor: Sinta Kasim

You may also like

Leave a Comment