Tak ada satu kejadian sekecil apa pun itu, melainkan telah ditetapkan dengan seadil-adilnya oleh Yang Maha Pencipta. Daun yang lepas dari tangkainya pun sudah ditentukan kapan dan di mana ia harus jatuh. Terlebih perkara kehidupan manusia.
Allah tak akan pernah salah ketika memutuskan segala sesuatu. Meskipun terkadang, sebagian manusia menganggap kenyataan yang terjadi, yang tak seperti apa yang diinginkan adalah suatu keburukan yang menjadi sebab kesedihan tercipta. Bahkan tak jarang pula ada yang mengumpat ketetapan itu dan menyatakan bahwa Allah tak lagi sayang. Namun di balik itu, masih ada yang senantiasa menerima setiap takdir Allah dengan penuh kesabaran juga keyakinan bahwa setiap kesulitan akan selalu ada kemudahan setelahnya. Begitulah Allah menyampaikan lewat salah satu surat cinta-Nya,
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah 94 Ayat 5), dan ini di ulang oleh Allah di ayat selanjutnya.
Begitu pula dengan keadaan hari ini. Di mana bumi sedang tidak baik-baik saja. Makhluk kecil bernama Corona masih belum beranjak dari semesta. Beberapa bagian dunia masih sibuk mencari cara menghentikan penyebaran wabah yang sudah begitu lama bertandang. Begitu pun di negeri tercinta Indonesia.
Sampai saat ini, pemerintah juga masyarakat bekerja sama memutuskan tali penularan virus itu.
Suatu kewajaran jika muncul perasaan sedih. Ditambah lagi saat bulan yang mulia hadir membawa begitu banyak keberkahan, tetapi disambut dengan keadaan yang berbeda.
Ramadhan di tengah pandemi adalah sejarah yang kelak terukir abadi di ingatan setiap ummat Islam. Bagaimana tidak. Wabah yang masih mengintai di sekitar kita telah mengubah hampir seluruh kebiasaan selama Ramdhan tahun-tahun yang telah lalu. Ketika dulu saat malam mulai bertamu, jalan-jalan sesak oleh langkah jamaah yang akan bertandang ke masjid. Anak-anak berlarian mengejar tarawih. Keriuhan yang terkadang membuat para tetua kampung akan melangitkan suara tertinggi yang harapannya berujung dengan keheningan. Bertahan lima menit. Setelah itu riuh mereka bertambah. Akan tetapi, itulah salah satu yang selalu mengundang kerinduan dan menjadi pengingat akan Ramdhan. Kali ini, semua rutinitas itu hanya tertinggal di ingatan. Kini rumah menjadi tempat teraman melakukan ibadah dan keluarga menjadi jamaah paling setia. Begitulah keadaan Ramadhan di kampung halaman kami.
Terlepas dari perubahan itu. Ada hal yang tak bisa dipungkiri. Ketika langkah terbatasi geraknya, maka hati menjadi semakin leluasa. Yah, di tempatku tinggal, tiap Ramdhan memang selalu ada yang namanya berbagi takjil. Setiap rumah akan bergilir untuk menyiapkan aneka menu dan dibawa ke masjid terdekat. Lalu di santap ramai-ramai di sana. Namun, saat pintu masjid tak lagi terbuka lebar maka pintu rumah masih belum tertutup untuk menerima.
Selama pandemi di bulan ramadhan, orang-orang semakin banyak yang peka hatinya. Berlomba menyambangi rumah-rumah yang tak mampu, untuk diringankan bebabnya. Pemerintah setempat pun tak ketinggalan untuk mengambil bagian. Saat Ramadhan memasuki kira-kira hari ke sepuluh, Bapak-bapak muda lengkap dengan masker dan seragam kepolisiannya mengetuk satu, dua, tiga pintu untuk mengantarkan kemasan yang beirisi beberapa kebutuhan pokok keluarga. Lalu dibalas oleh senyuman bahagia dari yang menerima.
Tak hanya sampai di situ, salah seorang yang setiap tahunnya selalu dimampukan oleh Sang Pemberi rezeki untuk berbagi pada sesama. Ramadhan kali ini meski beliau tak sampai mengulurkan tangan secara langsung sebab, jarak yang terbentang, kebaikannya telah sampai pada ratusan rumah. Semoga beliau dan kelurga senantiasa dirahmati oleh Allah Ta’la.
Masih banyak kebaikan-kebaikan lainnya yang dikirim Allah di tengah pandemi di bulan Ramadhan yang tak sempat termuat di penggalan cerita ini. Namun, sekecil apapun semoga dapat diambil nilanya.
Lagi dan lagi tak ada ketetapan Allah yang tanpa makna. Saat musibah datang menyapa, sejatinya hikmah kebaikan telah mengikuti. Tinggal bagaimana aku, kamu dan kita semua mencoba menemukannya lewat sabar dan syukur yang senantiasa dikuatkan.
_________
Penulis: Kria Dalmiati
(Pengurus FMDKI Daerah Baubau)
