Home ARTIKELMuharram dan Muhasabah

Muharram dan Muhasabah

by Admin 1 FMDKI News
0 comments

Setiap manusia hendaknya memperhatikan perjalanan hari-harinya, karena sesungguhnya hari akan terus berlalu mengantarkan pada akhir perjalanan, yakni negeri akhirat. Seorang penyair mengatakan, “Hari ini engkau bisa melakukan apa saja yang engkau sukai, yang engkau kehendaki. Esok engkau akan mati. Dan pena pencatat diangkat”.

Orang yang berakal sepatutnya menghisab diri. Segera bertaubat sebelum kematian menghampiri. Memohon maghfirah dari Allah bila telah banyak meninggalkan dan meremehkan kewajiban bahkan terjerumus kemaksiatan. Menzalimi diri dengan melakukan hal yang haram dan dibenci oleh Allah hingga berpeluang besar dilemparkan ke dalam neraka.

Awal bulan ini menjadi penanda kaum muslim telah berpisah dengan tahun yang telah lalu. Tahun yang menjadi saksi atas amalan-amalan baik maupun kelalaian yang diperbuat. Bagaimanakah semestinya menyambut bulan ini?

Memasuki tahun baru tepatnya di bulan Muharram ini, maka mari jadikan tahun ini lebih baik dari sebelumnya. Tingkatkan intensitas ibadah dengan mengetahui amalan apa saja yang bisa diperoleh di bulan mulia ini. Disebutkan dalam Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala;

اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةً ۗوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ

Terjemahnya: “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah itu ada dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa.” (QS. At-Taubah: 36)

Dalam ayat tersebut, empat bulan yang disebutkan merupakan bulan-bulan yang dimuliakan. Oleh sebab itu, disebutkan bahwa Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab merupakan bulan yang dipenuhi dengan kemuliaan oleh Allah. Karenanya, umat Islam pun dilarang melakukan jihad perang pada empat bulan tersebut.

Namun, ada amalan-amalan lain yang bisa dilakukan bahkan pahalanya tidak kalah besar dari syahid di medan jihad. Di antara amalan yang bisa dilakukan agar dapat meraup pahala dibulan yang mulia ini yakni:

  1. Banyak melakukan puasa, khususnya Puasa Asyura.

Di bulan yang penuh keutamaan ini, segala amalan baik akan dilipatgandakan pahalanya, salah satunya puasa. Bahkan puasa di bulan ini jadi urutan kedua setelah keutamaan puasa Ramadhan.

Rasululullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ

Artinya: “Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Muharram.” (HR. Muslim).

Selain itu, di bulan Muharram juga ada satu hari di mana hari itu terjadi peristiwa besar serta kemenangan yang gemilang. Saat di mana kebenaran menang atas kebatilan, yakni ketika Allah Ta’ala menyelamatkan Nabi Musa ‘alaihis salam beserta pengikutnya, dan menenggelamkan Fir’aun beserta bala tentaranya. Hari yang memiliki keutamaan dan dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu jika berpuasa di hari itu, yakni hari kesepuluh dari bulan Muharram, yang biasa disebut hari Asyura.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ ؟ فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

Artinya: “Puasa Asyura menghapus kesalahan setahun yang telah lalu.” (HR. Muslim)

Disunnahkan puasa sehari sebelum 10 Muharram yakni puasa Tasu’a di 9 Muharram untuk menyelisihi orang-orang yahudi sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu,

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، قَالَ: حِينَ صَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ» قَالَ: فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ، حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Artinya: “Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan (para sahabat) supaya berpuasa. Para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sesungguhnya hari itu adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani”, Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Pada tahun depan Insya Allah kita puasa tanggal 9”. Tetapi beliau wafat sebelum datangnya tahun berikutnya.” (HR. Muslim no. 1134/2666).

Di dalam hadis lain,

لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لأَصُومَنَّ التَّاسِعَ

Artinya: “Seandainya aku mendapati tahun depan, maka aku akan puasa tanggal 9. Tetapi beliau meninggal sebelum itu.” (HR. Ahmad).

Bulan ini adalah kesempatan emas untuk memperbaiki kekhilafan yang lalu, jangan sia-siakan kesempatan untuk mendapatkan pahala dari amalan puasa ini, sebab manusia tak pernah luput dari dosa yang sejatinya sangat membutuhkan ampunan Allah.

  1. Memperbanyak Amalan salih

Sebagaimana dosa yang diperbuat pada bulan ini dilipatgandakan, maka begitu pula perbuatan baik. Olehnya, siapa saja yang berbuat baik di bulan ini beruntunglah hamba allah tersebut, sebab dapat meraup pahala yang banyak. Sungguh berbahagialah orang-orang yang menyibukkan dirinya dalam ketaatan dan menghindari maksiat.

  1. Taubat

Taubat adalah tugas seumur hidup, taubat tidak dilakukan hanya sekali sebab selama nafas masih membersamai maka selama itu pula setan tidak lengah menghasut dan menjerumuskan manusia ke dalam lumpur dosa. Karenanya, hendaknya seseorang itu senantiasa mengulang-ulangi taubatnya, meminta ampun kepada Allah dan berusaha meninggalkan hal yang dibenci Allah, menyesalinya, serta ber-azzam (bertekad kuat) untuk tidak lagi mengulanginya.

Yang terpenting, janganlah menunda-nunda untuk bertaubat, sebab kematian bukan manusia yang mengatur. Ingatlah bahwa apabila berbuat maksiat pada hari atau waktu yang penuh keutamaan, maka dosanya akan besar pula. Semoga Allah menjadikan tahun ini sebagai tahun kebaikan untuk seluruh kaum muslimin, serta dipanjangkan umur setiap manusia untuk senantiasa dalam hidayah-Nya, ketaatan, dan jauh dari perbuatan maksiat, serta menjadikan siapa saja yang istikamah dijalan-Nya sebagai ahli surga yang keindahannya tak ada bandingan di dunia ini.

Penulis: Indah Wahyu Ningsih
Editor: Sinta Kasim

You may also like

Leave a Comment