Home ARTIKELKombinasi Bulan Suci dan Pandemi

Kombinasi Bulan Suci dan Pandemi

by Admin FMDKI News
0 comments

Ramadhan dirumah saja membosankan?’

Aku adalah satu diantara jutaan orang yang awalnya berpikir demikian. Tapi semoga aku dan kalian termasuk diantara segilintir orang yang mampu memahami hikmahnya.

Sebelumnya, Rajab dan Sya’ban telah mengingatkan akan datangnya Ramadhan. Maka telah kurencanakan segudang aktivitas lebih banyak dibanding setahun lalu. Kegiatan-kegiatan ala Ramadhan sudah tertata rapi di otak, dan semuanya kegiatan diluar rumah. Safari Ramadhan di desa paling jauh, silaturahmi dengan kerabat, bukber geng/alumni ini itu, halal bihalal, lantas baru pulang ke kampung halaman H-3 lebaran.

Peningkatan wabah justru semakin tinggi bersama dengan menyurutnya semangatku menyambut Ramadhan. Sebulan Ramadhan dirumah saja? Di kampung terpencil pula. Geser dikit, sinyal ambyar. Sebulan Ramadhan dengan orang itu-itu saja? Orang tua dengan ceritanya yang bikin ngantuk. Saudara/sepupu yang kalau soal makanan saja diajak berantem. Atau
tetangga yang apa-apa saja jadi bahan ghibah. Ok fix, saya menyerah duluan. Ramadhan kali ini akan terasa hambar.

1 Ramadhan 1441 H. Semua berjalan normal, biasa saja. Tapi hey, bacaan al-Qur’anku lebih banyak dari biasanya. Handphone yang terbujur kaku tanpa sinyal tidak kuasa menarik perhatianku dari lembaran al-Qur’an. Rasa-rasanya malaikat sedang berbisik ‘dari pada sibuk kejar satu jaringan tidak dapat-dapat, mending sibuk kejar 10 kebaikan ditiap huruf al-Qur’an, Allah yang jamin’. Wah, mana ada yang lebih menggiurkan dibanding jaminan dari Allah.

7 Ramadhan 1441 H. Semula kurasa akan membosankan. Tapi hey, kenyamananku ditengah keluarga mencapai titik klimasnya. Seru juga mendengar kisah-kisah klasik keluarga dari orang tua. Nyatanya cerita tempo dulu lebih menggelitik untuk ditertawakan dizaman
modern. Kebersamaan ini juga menampar sifat lalaiku, rupanya selama ini orang tuaku meniti usia senjanya tanpa kebersamaan kami anak-anaknya. Selain itu, meski tanpa keluar batas kampung, seru juga menyapa anak-anak tetangga yang dulu tingginya selututku. Baru sadar kalau sekarang justru tinggiku sebahu mereka.

14 Ramadhan 1441 H. Pandemi mengajarkanku untuk kembali hidup sederhana. Tanpa lengket lagi dengan gadget, tanpa tontonan serial ramadhan, tanpa bukber yang dipaksa mewah, tanpa ngabuburit yang melalaikan, atau aktivitas lain yang menguras tenaga untuk menambah ibadah. Kadang jadi heran sama diri sendiri. Bacaan al-Qur’an khatam lebih awal. Ibadah lainnya juga terasa lebih enteng. Memasuki pertengahan Ramadhan yang tepat pada hari mulia dibulan mulia (Jum’at 15 Ramadhan 1441 H) telah banyak kujumpai hikmah ramadhan kali ini.

21 Ramadhan 1441 H. Jadi teringat, dari awal hingga penghujung ramadhan tahun lalu, saya malah sibuk mengurus acara-acara bukber yang selalu bertabrakan atau kejar deadline tugas dikegiatan amal bulan Ramadhan. Lantas baru sadar saat ramadhan tinggal sisa-sisanya saja. Menyesal atas lembar-lembar al-Qur’an yang banyak tersisa, atau rakaat-rakaat yang terus tertunda. Di Ramadhan tahun ini, waktunya kencangkan ikat pinggang, kurangi makan, kurangi tidur, tinggalkan hal sia-sia. Satu lailatul qadr diantara sepuluh malam kemungkinan kemunculannya, tidak akan kubiarkan luput dari pantauan.

1 Syawal 1441 H. Shalat ied dirumah menjadi hal baru yang paling terasa ganjil. Tak perlu sendal baru, tak lagi buru-buru ke masjid/lapangan karena takut ketinggalan, tanpa jabat tangan, tanpa ziarah kerumah tetangga. Hal ini menjadi tapak sejarah yang akan selalu dikenang tiap lebaran selanjutnya, atau akan jadi cerita kebanggaan untuk anak cucu kelak.

Sedih memang tak bisa merasakan rayanya hari raya seperti biasanya. Tapi dengan hati yang lebih lapang, seharusnya kita paham bahwa Allah sedang menguji keikhlasan kita. Apakah benar-benar ikhlas bahagia di hari raya atau hanya sekedar ikut-ikutan terlihat bahagia?

Pada akhirnya. Harus kita akui pertemuan Ramadhan dan pandemi adalah kombinasi yang langka. Seperti saat bulan melintas diantara bumi dan matahari hingga terjadilah gerhana matahari atau saat medan magnetik bumi berinteraksi dengan partikel bermuatan dari matahari hingga nampaklah cahaya kutub aurora. Ramadhan melintas ditengah pandemi,
berinteraksi dengan kebiasaan baru, menjanjikan indahnya ketenangan ibadah bila dipantau dari sisi baiknya.

Kisahku, hanyalah satu diantara banyaknya kisah yang lebih hebat lainnya. Lalu, seberapa jauh kisah Ramadhan kali ini mengubahmu jadi pribadi yang lebih baik?. Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan mengampuni dosa kita semua. Aamiin

Editor: Infokom FMDKI Pusat

 

You may also like

Leave a Comment