Manusia merupakan makhluk pilihan yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dibanding makhluk ciptaan lain-Nya. Manusia juga memiliki segala keistimewaan yang terdapat dalam dirinya, seperti akal yang sanggup membedakan antara hak dan batil. Allah Subhana wa Ta’ala menciptakan sebaik-baiknya manusia agar dapat memakmurkan dan memelihara, lalu melestarikan keberlangsungan alam semesta ini.
Dengan hatinya, mereka bisa menentukan sesuatu menggunakan petunjuk Penciptanya. Menggunakan raganya untuk membangun karya dan tindakan yang benar sampai dia tetap pada posisi kemuliaan, sebagaimana Allah menciptakan manusia itu sendiri.
Maka, menggunakan seluruh sifat kemuliaan dan seluruh sifat insani yang ada dengan segala kekurangan dan keterbatasan, Allah Subhana wa Ta’ala menguji dan mengetahui mana yang beriman dan mana yang tidak menjadikan Allah sebagai satu-satunya tempat meminta pertolongan.
Sebagaimana manusia adalah makhluk yang aktif bergerak, memiliki perasaan dan pikiran. Karakter atau sifat merupakan salah satu aspek yang melekat dalam diri manusia. Karakter tersebut bisa dilihat dari bagaimana dia menyampaikan gagasan dan tindakan terhadap suatu kondisi yang terjadi pada diri seseorang.
Setiap manusia memiliki perbedaan karakter. Kita mungkin menyukai sifat tersebut, bersimpati, atau bisa juga tidak menyukai karakter atau sifat yang ditampilkan dalam diri setiap manusia.
Karakter juga dapat menunjukkan perubahan yang dipengaruhi secara signifikan oleh keluarga, lingkungan, atau sifat bawaan sejak lahir. Karakter sepenuhnya berkembang dari awal mulanya sebagai karakter asli, kemudian berubah menjadi karakter yang muncul karena sebuah peristiwa terjadi dalam hidup manusia.
Faktor tersebut bisa mengarah ke hal positif atau negatif tergantung bagaimana seseorang menyikapi konflik yang datang sebagai ujian atau cobaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mengukur keimanan seorang insan.
Contoh, ada orang yang memiliki kehidupan serba cukup, keluarga lengkap, pekerjaan bagus, dan pasangan yang dia cintai. Namun pada suatu kejadian, nikmat itu diambil kembali oleh Allah sehingga semuanya hilang dan yang tersisa tinggal dirinya. Dari sinilah manusia bisa berubah, dari yang tadinya ceria, ramah, atau penyayang, berubah menjadi sifat bertolak belakang.
Secara psikologi, perubahan yang terjadi pada manusia bisa berbagai macam. Misalnya, dari yang baik menjadi buruk, dari baik menjadi lebih baik, dan dari buruk menjadi baik. Perubahan tersebut bisa terjadi karena adanya luapan emosi yang terjadi sehingga menghasilkan karakter-karakter baru.
Dalam Islam sendiri, sifat manusia bisa dilihat dari beberapa dalil yang menjelaskan tentang manusia di dalam al-Quran.
1. Manusia adalah makhluk yang lemah
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يُرِيْدُ اللّٰهُ اَنْ يُّخَفِّفَ عَنْكُمْ ۚ وَخُلِقَ الْاِ نْسَا نُ ضَعِيْفًا
Terjemahnya: “Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, karena manusia diciptakan (bersifat) lemah.” (QS. An-Nisa’: 28)
Allah hendak memberikan keringanan melalui syariat dan ketentuan-ketentuan yang mudah dan ringan. Allah telah menciptakan manusia dalam keadaan lemah dalam menghadapi segala macam kecenderungan batin. Maka, sangatlah sesuai jika beban-beban yang diberikan kepadanya mengandung unsur kemudahan dan keluasan. Itulah yang diberikan Allah kepada hamba-Nya sebagai karunia dan kemudahan.
2. Manusia itu gampang teperdaya
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يٰۤاَ يُّهَا الْاِ نْسَا نُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيْمِ ۙ
Terjemahnya: “Wahai manusia! Apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pengasih.” (QS. Al-Infitar: 6)
Dalam ayat ini, Allah mencela manusia-manusia kafir, teperdaya, dan berani berbuat hal-hal yang dilarang Allah. Padahal, Allah Maha Pemurah dengan berbagai karunia yang dianugerahkannya kepada manusia, seperti rezeki yang banyak, keturunan yang baik dan saleh, kesehatan tubuh, dan lain-lain.
Seharusnya mereka bersyukur sebagai balasan atas kemurahan Allah, bukan berbuat sebaliknya.
3. Manusia itu lalai
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
اَلْهٰٮكُمُ التَّكَا ثُرُ ۙ
Terjemahnya: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.” (QS. At-Takasur: 1)
Dalam ayat ini, Allah mengungkapkan bahwa manusia sibuk bermegah-megahan dengan harta, teman, dan pengikut yang banyak, sehingga melalaikannya dari kegiatan beramal. Mereka asyik dengan berbicara saja, teperdaya oleh keturunan mereka dan teman sejawat tanpa memikirkan amal perbuatan yang bermanfaat untuk diri dan keluarga mereka.
4. Manusia itu penakut
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلَـنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَـوْفِ وَا لْجُـوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَ مْوَا لِ وَا لْاَ نْفُسِ وَا لثَّمَرٰتِ ۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ ۙ
Terjemahnya: “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)
Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menguji kaum muslimin dengan berbagai ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan (bahan makanan). Dengan ujian ini kaum muslimin menjadi umat yang kuat mentalnya, umat yang mempunyai keyakinan kokoh, jiwa yang tabah, dan tahan uji. Dan masih banyak lagi dalil yang mendeskripsikan sifat-sifat manusia di muka bumi.
Oleh sebab itu, kita sebagai manusia yang diberikan banyak kelebihan oleh Allah Subhana wa Ta’ala seharusnya menjadikan diri sebagai insan yang selalu bersyukur, kuat dalam menghadapi problematika kehidupan, dan tidak mengikuti hawa nafsu berupa emosi yang bisa menggiring diri kita ke jalan sesat.
Wallahu ‘alam
______________
Penulis: Mutmainnah Jufri
(Pengurus FMDKI Daerah Sinjai dan TIM FMDKI News)
