FMDKI.ORG, Perasaan marah adalah perasaan manusiawi yang selalu menghantui ketika sedang emosi. Sangat banyak di antara kita yang belum mampu mengolah perasaan ini. Sikap marah adalah bara api yang dikobarkan oleh setan dalam hati manusia yang mampu merusak diri dan agamanya sebab kemarahannya itu akan mengundang perbuatan dan perkataan yang selayaknya tidak keluar.
Apakah perasaan tersebut harus kita tuangkan begitu saja tanpa menyaringnya? ataukah harus kita pendam sendiri menutupi seolah tidak ada apa-apa?
Sebagai seorang hamba yang bertakwa, kita senantiasa berusaha untuk meredam amarah yang bergojolak di hati walaupun memang tidak mudah untuk dihindari sebab Allah mencintai orang-orang yang mampu menahan amarahnya. Allah Ta’ala memuji mereka dengan sifat ini dalam firman-Nya,
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang menafkahkan (harta mereka) baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali-Imran:134).
Mencontoh pada manusia dengan akhlak terbaiknya, Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam yang dikenal tidak pernah marah dalam hal urusan pribadi beliau. Namun, apabila berkaitan dengan pelanggaran syariah maka beliau sangat marah bahkan sampai muka beliau memerah.
Seperti Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam yang pernah marah kepada Usamah bin Zaid, yang merupakan anak dari anak angkat yang sangat disayanginya.
Usamah bin Zaid dalam satu perang membunuh seorang pria yang mengatakan bahwa dia adalah seorang muslim yang putus asa. Pria itu membacakan dua kalimat syahadat setelah dipojokkan oleh Usamah. Namun Usamah bin Zaid tetap membunuh pria tersebut.
Oleh karena itu, selain perkara pelanggaran syariah Islam maka sangat dianjurkan untuk meredam perbuatan marah ini. Tentunya Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam telah memberikan petunjuk dan cara kepada umatnya untuk meredakan kemarahan dan menahannya atas izin Allah Ta’ala.
Beliau mengajarkan beberapa cara dalam meredam rasa marah, yaitu:
- Membaca ta’awudz (berlindung kepada Allah Ta’ala dari godaan setan)
Dari Sulaiman bin Shurad beliau berkata: “(Ketika) aku sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada dua orang laki-laki yang sedang (bertengkar dan) saling mencela, salah seorang dari keduanya telah memerah wajahnya dan mengembang urat lehernya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku mengetahui satu kalimat yang seandainya dia mengucapkannya maka niscaya akan hilang kemarahan yang dirasakannya. Seandainya dia mengatakan: “Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk”, maka akan hilang kemarahan yang dirasakannya.” (HR. Bukhari no. 5764 dan Muslim no. 2610).
- Diam (tidak berbicara)
Dengan diam, kita akan terhindar dari perkataan-perkataan buruk yang ditimbulkan ketika sedang marah. Dari Ibnu Abbas, Nabi shallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Jika kamu marah, diamlah.” (HR. Ahmad dan Syu’aib Al-Arnauth menilai Hasan lighairih).
- Ambil posisi yang lebih rendah (duduk atau berbaring)
Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Jika kamu marah, dan dia dalam posisi berdiri, dia harus duduk. Karena dengan itu kemarahannya bisa hilang. Jika belum hilang, dia harus mengambil posisi tidur.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan perawinya dinilai shahih oleh Syu’aib Al-Arnauth).
- Berwudu
Dari Urwah As-Sa’di, Nabi shallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya amarah itu dari setan, dan setan itu diciptakan dari api, dan api dapat dipadamkan dengan air. Jika kamu marah, ia harus berwudu.” (HR. Ahmad dan Abu Daud).
Perlunya untuk terus mengendalikan diri ketika penyebab marah menghampiri, sebab dengan itu akan menutup jalan-jalan setan untuk menjerumuskan kita dalam jurang keburukan dan kebinasaan.
Suatu hari, Khalifah yang mulia, ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz marah, maka putranya (yang bernama) ‘Abdul Malik berkata kepadanya: Engkau wahai Amirul mukminin, dengan karunia dan keutamaan yang Allah berikan kepadamu, engkau marah seperti ini? Maka ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz berkata: Apakah kamu tidak pernah marah, wahai ‘Abdul Malik? Lalu ‘Abdul Malik menjawab: Tidak ada gunanya bagiku lapangnya perutku (dadaku) kalau tidak aku (gunakan untuk) menahan kemarahanku di dalamnya supaya tidak tampak (sehingga tidak mengakibatkan keburukan).” (Dinukil oleh imam Ibnu Rajab dalam “Jaami’ul ‘uluumi wal hikam” hal. 146).
Ketika ingin marah, maka jadikanlah marah kita menjadi marah yang terpuji. Marahnya karena Allah Ta’ala yaitu marah dan tidak rida ketika larangan dan perintah-Nya dilanggar oleh manusia seperti yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ummul mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah marah karena (urusan) diri pribadi beliau, kecuali jika dilanggar batasan syariat Allah, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam akan marah dengan pelanggaran tersebut karena Allah.”
Itulah beberapa cara mengolah serta mengatasi perasaan marah, semoga ke depannya kita mampu menahan rasa marah dan mampu bersikap marah pada tempatnya. Dengan memohon rahmat dan pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, semoga kita senantiasa diberikan petunjuk dan taufik-Nya untuk memiliki hati yang lembut dan akhlak yang mulia serta dijauhkan dari akhlak yang buruk.
Penulis: Sabitri Aderiani
Editor: Sinta Kasim
