Perihal waktu, berganti dengan cepat tanpa sadar hari ke hari terasa begitu cepat berlalu. Rasanya baru saja merebahkan diri di pembaringan, malam sudah kembali menghampiri. Belum selesai pekerjaan dalam sehari, 24 jam sudah berpindah ke hari berikutnya. Weekend, yang selalu menjadi dambaan setiap pekan pun berlalu begitu saja.
Ini bukan hanya perasaan, tapi kenyataan, dan menerima adalah kunci kelapangan. Tapi, apakah cukup dengan hanya menerima begitu saja? Tentu tidak. Allah subhanahu wa ta’ala menganugerahkan akal kepada manusia. Artinya, dengan akal inilah manusia diberi karunia untuk berpikir. Waktunya akan ia habiskan untuk apa dan bagaimana.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ وَا خْتِلَا فِ الَّيْلِ وَا لنَّهَا رِ لَاٰ يٰتٍ لِّاُولِى الْاَ لْبَا بِ ۙ الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَا مًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَا طِلًا ۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَا بَ النَّا رِ
Terjemahnya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia, Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali-Imran:190-191).
Lihatlah bagaimana Allah berkalam bahwa orang-orang berakal, yang menggunakan akalnya dengan mengingat Allah, mereka adalah orang-orang yang Allah karuniakan baginya melihat tanda kebesaran-Nya dalam penciptaan langit dan bumi, serta pergantian malam dan siang. Pergantian yang merujuk pada waktu.
Ketika menggunakan akal dengan baik, senantiasa mengingat-Nya, maka Allah akan memberikan petunjuk (hidayah) agar selalu berada pada koridor yang benar. Orang yang senantiasa merenung dengan segala peristiwa di muka bumi, bukan menjadi tidak mungkin dengannya Allah tunjukkan baginya jalan menuju kebaikan, dan akan menyelamatkan mereka dari azab yang pedih.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Artinya: “Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang.” (HR. Al-Bukhari no. 6412)
Waktu senggang, satu di antara nikmat yang banyak manusia lalai daripadanya. Padahal waktu itu ibarat pedang, jika menggunakannya dalam perkara kebaikan, niscaya akan menyelamatkan. Namun, jika dihabiskan dalam perkara kesia-siaan atau kemaksiatan (waliyyazubillah), niscaya akan membinasakan.
Ibnul Jauzi berkata: “Terkadang manusia berada dalam kondisi sehat, namun ia tidak memiliki waktu luang karena sibuk dengan urusan dunianya. Dan terkadang pula seseorang memiliki waktu luang, tapi dalam kondisi tidak sehat. Apabila terkumpul pada manusia waktu luang dan nikmat sehat, sungguh akan datang rasa malas dalam melakukan keataatan. Itulah manusia yang telah tertipu (terpedaya)”.
Jika manusia hendak menghitung nikmat yang ada pada dirinya, niscaya tidak akan pernah mampu. Sebab banyaknya limpahan nikmat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah karuniakan pada diri-diri yang lemah. Allah subnahahu wa Ta’ala berfirman:
وَاِ نْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَـغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Terjemahnya: “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl: 18).
Kenikmatan yang Allah berikan saat ini, kelak akan dipertanggungjawabkan. Termasuk nikmat waktu dan usia. Jika sejenak merenung, coba tanyakan pada diri, sudah berapa lama nikmat hidup (usia), waktu dan kesempatan yang Allah karuaniakan? Sudah berapa banyak dari nikmat itu dihabiskan pada perkara yang Allah cintai? Sudah berapa banyak pula darinya yang luput dengan kesia-siaan dan kemaksiatan pada-Nya?
Dari Abu Barzah Al-Aslami, Rasulullah shalllallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Artinya: “Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya di manakah ia habiskan, (2) ilmunya di manakah ia amalkan, (3) hartanya bagaimana ia peroleh dan (4) di mana ia infakkan, dan (5) mengenai tubuhnya di manakah usangnya.” (HR. Tirmidzi no. 2417).
Olehnya itu, mari bermuhasabah (intropeksi diri). Perihal waktu adalah perkara yang tak akan pernah kembali. Kendati memohon dengan rengekan yang teramat sangat, waktu akan terus berputar layaknya jarum jam dan tidak akan pernah berhenti walau sejenak.
Tugas manusia sebagai hamba berakal, yakni mengupayakan dengan seluruh jiwa dan raga, berazzam (tekad kuat) untuk meraih kebaikan di dunia sebagai bekal di akhirat kelak. Mari gunakan nikmat waktu dengan sebaik-baiknya, dengan hanya melakukan ketaatan kepada Sang Pencipta, Rabb seluruh alam, Allah Azza wa Jalla. Hadaanallah (Semoga Allah memberi kita petunjuk hidayah).
Penulis: A. Maya Masyita
Editor: Sinta Kasim
