FMDKI.ORG, MAKASSAR – Talkshow Muslimah yang diadakan oleh Ma’had Tadrib Ad-Daíyah Al-Muslimah dengan tema “Lifestyle Generasi Muslimah di Era Digital” sukses terlaksana secara Hybrid di Gedung Lestari 45 dan via Zoom, Ahad (31/07/22).
Acara yang dihadiri oleh 450 peserta tersebut merupakan bentuk follow up dari Pelatihan Event Organizer. Hal ini disampaikan dalam sambutan Master of Trainer, Ustazah Zelfia Amran.
“Event Talkshow Muslimah ‘Lifestyle Generasi Muslimah di Era Digital’ ini adalah sebuah ikhtiar inisiasi follow up, rencana tindak lanjut dari sebuah pelatihan. Pelatihan yang bernama Pelatihan Event Organizer, yang alhamdulillah telah dilalui oleh para EO,” ungkap dosen Komunikasi Visual UMI tersebut.
Pada event yang dipandu moderator Ustazah Fauziah Ramdani ini, hadir dua narasumber berkompeten di bidangnya. Keduanya adalah Sherly Annavita Rahmi, Motivator Millenial, dan Creator Digital, serta Ustazah Muhyina, Penulis dan Aktivis Ziarah Kemanusiaan untuk Baitul Maqdis.

Dalam sesi pertama Sherly menyampaikan bahwa, anak muda tidak bisa menawarkan masa lalu dan anak muda punya priviledge dalam masa depan.
“Ketika berbicara tentang pemuda, otomatis berbicara tentang masa depan. Anak muda sangat punya priviledge atau hak istimewa dalam hal ini. Anak muda gak bisa menawarkan masa lalu, pengalaman kita sedikit, ilmu kita terbatas, dan wawasan kita juga masih pas-pasan. Itu kalau ada hal yang bisa kita tawarkan ialah masa depan,” tuturnya.
Sherly yang juga merupakan youtuber menambahkan, identitas Islam yang melekat pada diri bukan sebagai hambatan dan alasan untuk insecure, terlebih muslimah yang cara berpakaiannya diatur dan hal-hal kecil lainnya. Justru itu yang menjadikan posisi perempuan sangat vital dalam skala besar untuk perubahan. Di mana perempuan adalah pencetak generasi bangsa, perempuan adalah peradaban, dan perempuan adalah madrasah pertama untuk anak-anaknya.
“Ada dua alasan kenapa kita ndak PD. Pertama, kita ndak tahu kelebihan kita apa. Kedua, kita jauh lebih sering di eksploitasi oleh orang-orang sekitar atas kekurangan kita. Ini yang akan membuat kita lebih fokus kepada kekurangan daripada kelebihan kita,” sambungnya.
Sehubungan dengan itu, lulusan Swinburne University Melbourne Australia ini berpendapat bahwa tidak ada cara lain untuk mendapatkan kelebihan atau potensi selain do it now. Mencoba segala hal positif, keluar dari zona nyaman, practice, terus mengulang dan mengevaluasi hingga menjadi expert di bidang tersebut.
Sherly melanjutkan jika pemuda harus create dan mendesain masa depan dari sekarang, karena tidak ada perubahan besar tanpa akumulasi perubahan kecil dan partikel terkecil perubahan, ada pada diri dan mindset sendiri.
“Selama harapan, keyakinan, dan cita-cita masih ada dalam dada, maka selamanya jiwa masih muda dan itu harus diperjuangkan. Jangan mau jadi pemuda atau muslimah yang pengecut karena Islam pertama kali hadir bukan sebagai penonton atau pemandu sorak. Islam hadir untuk memberikan warna, solusi, dan perubahan,” jelasnya.
Sementara itu, pada sesi kedua oleh Ustazah Muhyina yang lebih fokus pada Al-Qur’an sebagai lifestyle, karena maraknya fenomena krisis moralitas dan lifestyle era digital yang akhirnya menjebak sebagian manusia pada viralitas yang semu.
“Kita hidup di era digital, di mana semua hal harus di-capture, harus di-upload, di-like, comment, and subscribe. Maasyaa Allah, everything. Mostly sebagian dari kehidupan kita, polanya kayak gini sekarang. Sebelum makan, jangan sentuh dulu. Foto dulu, ya, sampai kita kehilangan makna bahwa setiap suapan yang kita makan adalah rezeki dari Allah,” paparnya.
Pegiat Dakwah Pemuda itu juga menyebutkan banyak fenomena yang membuat manusia kehilangan banyak nilai dan makna, seperti generasi selfie, minum kopi harus Starbucks, Outfit of the Day harus kece, orang kaya pamer saldo, maraknya Friend with Benefits (FWB), Citayem Fashion Week, pengakuan “Gue atheis, agnostic, free thinker”.
Di sisi lain, menurut Ustazah Muhyina, muslimah yang belajar Al-Qur’an seperti punya dunia sendiri, melekat image alim tapi tidak open minded, tidak berbaur di tengah umat, tidak peduli keadaan dunia.
“Cukuplah aku di bilik kamarku menjaga hafalan-hafalanku, cukuplah aku di dalam pondokku. Kita seperti berada di dua kutub yang berbeda. Padahal dalam sejarah peradaban pertengahan, ketika kreatifitas, ilmu pengetahuan bersatu dengan Al-Qur’an maka akan terukir sejarah yang sangat luar biasa,” terangnya.
Fouder Journey to Kaffah ini juga memaparkan salah satu pengakuan Wills, seorang pakar sejarah Inggris, “Siapa pun menginginkan bukti, maka silakan baca Al-Qur’an berikut kandungannya yang berisi tentang teori-teori dan konsep ilmiah serta hokum sosial. Sesungguhnya Al-Qur’an adalah kitab agama, ilmu, sosial, moral, akhlak, dan sejarah. Apabila aku diminta untuk memberikan definisi makna Islam, maka aku akan memberikan definisi ibarat ini, Islam adalah peradaban”.
“Allah memilih kita untuk diletakkan sebagai generasi akhir zaman yang akan bertemu segelap-gelapnya fitnah, sekaligus seterang-terangnya cahaya kemenangan. Hanya kita memang harus memilih menjadi bagian dari yang terbenam dalam kepekatan atau memilih bangkit dan menjemput cahaya. Mungkin kita yang ditunggu sejarah, maka kukatakan, ‘Tunggu, aku datang!” pungkasnya.
Reporter: Rika Arlianti DM
Editor: Sinta Kasim
