FMDKI.ORG–Suatu pertemanan adalah sebuah kisah perjalanan hidup yang di mana setiap orang memiliki jalur cerita berbeda.
Ada kalanya dipertemukan karena pendidikan namun dipisahkan karena telah memiliki jalan hidup yang baru. Bagaimana pertemuan bermula dari harapan lalu terpisah karena cita dan perjuangan.
Semua tak ada yang abadi, kecuali pertemanan yang dibangun karena dasar cinta kepada sang pemilik kehidupan, Allah Azza Wajalla. Walau jasad tak berjumpa, namun ada cinta yang akan senantiasa tumbuh dalam doa untuk setiap kebaikan.
Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Setiap orang akan dikumpulkan bersama orang yang ia cintai.” (HR. Bukhari, no. 6170; Muslim, no. 2640).
Pada dasarnya, pertemanan merupakan cara kita menebarkan kebaikan, menjadikan cerita penuh hikmah bernilai taat. Tak mendustakan Allah dengan kemaksiatan.
Ada banyak cerita pertemanan yang menyedihkan, tak hanya berakhir saling bermusuhan namun ada kalanya mereka jadikan cara kekerasan hingga pembunuhan demi jalan pintas pembalasan.
Melangsir dari detik.com, seorang pria berinisial S (28) asal Demak membunuh temannya sendiri, R (21) karena sakit hati diejek. Peristiwa itu diketahui terjadi pada Selasa, (25/10).
Bukan hanya kasus tersebut, ada banyak kisah lain yang dapat dijadikan pelajaran. Tak kalah menghebohkan kasus pembunuhan berencana mantan pendeta muda yang bunuh teman wanita di Jakarta Timur baru-baru ini.
Inilah mengapa pentingnya memilih pertemanan yang baik agar terhindar dari keburukan apalagi hal bahaya lainnya, karena pergaulan sangat mempengaruhi kehidupan seseorang.
Islam sangat menganjurkan berhati-hati dalam memilih teman, bukan untuk menutup diri dan tidak memperbanyak perkenalan akan tetapi menemukan lingkungan dan teman yang baik itu sangatlah penting agar senantiasa dalam kebaikan.
يٰوَيْلَتٰى لَيْتَنِيْ لَمْ اَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيْلًا
Terjemahnya: “Celaka aku! Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku)” (QS. Al-Furqan ayat 28).
Maka suatu kesyukuran jika dipertemukan dengan orang-orang saleh yang senantiasa mengajak pada kebaikan, karena dampak buruk akan menimpa bagi siapa saja yang salah dalam pergaulan.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan dampak buruk seorang teman dalam sabda beliau:
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة
Artinya: “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)
Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah mengatakan: “Hadits di ini menunjukkan larangan berteman dengan orang-orang yang dapat merusak agama maupun dunia kita. Hadits ini juga mendorong seseorang agar bergaul dengan orang-orang yang dapat memberikan manfaat dalam agama dan dunia.” (Fathul Bari 4/324).
Salah memilih teman akan berakibat rusaknya agama seseorang, maka jangan sampai menyesal di kemudian hari akibat tergelincir ke lubang keburukan.
Semoga Alla Azza Wajalla senantiasa menjaga kita dan keluarga dari keburukan dan terhindar dari kemasiatan. Mempertemukan dengan teman yang saleh dan terhindar dari orang-orang buruk.
Penulis: Sinta Kasim
Editor: Admin FMDKI NEWS
