FMDKI.ORG, Ramadan adalah bulan yang paling dinantikan hampir seluruh umat Islam di dunia. Tak terkecuali yang beragam non muslim, turut menyemarakkan dengan cara berbeda.
Berbicara tentang Ramadan, maka tak akan ada habisnya. Terdapat banyak keutamaan didalamnya. Tak hanya menambah amalan akan tetapi berpengaruh kepada kesehatan karena sebab puasa, mengeratkan silaturahmi antara keluarga, serta menjalin ukhuwah bersama teman.
Tak hanya itu, dampak Ramadan pun sangat besar bagi pertumbuhan perekonomian. Karena perputaran ekonomi yang begitu cepat dengan daya beli masyarakat yang meningkat.
Hal ini dikarenakan jumlah permintaan yang meningkat dan tak jarang masyarakat mengeluarkan dana lebih besar dari bulan sebelumnya sehingga jumlah uang yang beredar semakin banyak. Ini tentu akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi disuatu negara.
Salah satu hal yang tak dapat dihindarkan dari memontum perayaan hari besar suatu agama adalah bertambahnya pengeluaran. Banyak pelaku usaha menanti momen ini, utamanya di bulan Ramadan dengan meningkatkan jumlah penjualan.
Ketika kita berjalan di luar rumah pada saat menanti berbuka puasa, ada banyak pedagang yang menjajakan dagangannya. Sektor yang paling merasakan keuntungan tersebut adalah industri makanan dan minuman, khususnya skala mikro dan kecil.
Meningkatnya jumlah keuntungan bagi para pedagang, akan berpengaruh besar pada perekonomian nasional. Dimana usaha mikro, kecil, dan menengah dikenal sebagai sektor yang berperan penting pada Produk Domestik Bruto.
Mengutip dari kompas.com, Kepala Ekonomi Bank Permata Tbk Joshua Pardede memperkirakan perputaran uang di Indonesia akan bertambah sekitar Rp 243 triliun pada Lebaran 2023.
Ini mengartikan bahwa terjadi peningkatan perputaran uang dari tahun sebelumnya yang tercatat sebanyak Rp 221 triliun.
Dampak meningkatkan pertumbuhan ekonomi juga di disebabkan semakin melonggarnya aktivitas pasca pandemi Covid-19, hal ini tentu akan berpengaruh pada jumlah pemudik ke daerah.
Kenaikan jumlah permintaan yang besar utamanya menjelang lebaran, harus tetap diwaspadai karena dapat berakibat pada tingkat inflasi yang lebih tinggi. Sehingga pemerintah harus menjaga kestabilan harga untuk mencegah terjadinya dampak ekonomi yang buruk.
Peran pemerintah untuk menjaga kestabilan harga, utamanya pangan harus menjadi fokus utama di tengah penurunan laju inflasi yang meski saat ini sudah menurun namun masih di atas target Bank Indonesia.
Dengan menjaga laju inflasi, maka akan mendorong tingkat konsumsi masyarakat yang lebih optimal, sehingga berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi.
Namun jika melihat dari aspek syariat Islam, maka seseorang harus menghindari pemborosan dari aktivitas konsumsi yang dilakukan. Sebagaimana yang diketahui, saat berpuasa kebutuhan makan dan minum kadang mengalami peningkatan.
إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا
Terjemahnya: “Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al Isra: 27).
Dari ayat tersebut menegaskan larangan dalam pemborosan. Sehingga saat berbuka atau sahur, kita dianjurkan untuk makan dan minum secukupnya dan tidak berlebihan.
Semoga dengan momentum Ramadan tahun ini, semakin mendekatkan kita kepada Allah Subhanahu Wata’ala dengan meraih derajat takwa, menjadi finalis terbaik.
Tak hanya di bulan Ramadan, akan tetapi di bulan-bulan selanjutnya, ibadah kita semakin meningkat dan menjadi manusia terbaik dalam sikap dan ibadah. Aamiin allahumma aamiin.
Penulis: Sinta Kasim
Editor: Admin FMDKI News
