Home ARTIKELAgar Ramadan Kali Ini Berbeda

Agar Ramadan Kali Ini Berbeda

by Admin 1 FMDKI News
0 comments

Sudah berapa kali saya, anda, dan kita semua bertemu bulan Ramdan? Lantas sudah berapa hari saya anda dan kita semua shaum (puasa) di bulan-bulan Ramadan yang telah berlalu?

Apakah saya, anda, dan kita semua melihat perubahan positif dalam diri pasca shaum Ramadan?

Adakah perbedaan dalam diri antara sebelum dan sesudah shaum?

4 pertanyaan penting diatas minimal telah mewakili berbagai pertanyaan-pertanyaan seputar evaluasi shaum yang telah kita lakukan 1 tahun yang lalu, juga tahun-tahun sebelumnya.

Shaum ibadah yang agung

Cukup menjadi alasan agungnya ibadah shaum sebagai salah satu rukun Islam, sehingga Allah ta’ala menyimpan banyak keutamaan dan keistimewaan dalam ibadah tersebut.

Takwa sebagai tujuan shaum

Didalam ayat shaum surah yang ke 2, ayat ke 183 dengan sangat gamblang Allah ta’ala menjadikan takwa sebagai tujuan shaum, mengapa begitu jelas dan gamblang?

Agar orang yang shaum tidak salah arah dan tujuan. Maka Tidak dibenarkan karena alasan shaum seseorang melalaikan salat atau tidak membaca Al-Qur’an, dan meninggalkan ibadah-ibadah yang lain.

Apalagi ketika shaum seseorang masih melakukan dosa dan maksiat, baik dosa dan maksiat hati seperti dengki dan sombong, atau dosa dan maksiat lisan seperti berdusta dan mengumpat, atau dosa dan maksiat tubuh seperti seperti mata melihat yang haram, telinga mendengar yang haram, tangan mengambil yang haram, atau kaki berjalan ketempat yang diharamkan.

Ketika shaum seharusnya seorang muslim berusaha untuk menerapkan nilai-nilai takwa, agar ia menjadi insan yang bertakwa pasca shaum.

Apa saja nilai-nilai takwa dalam shaum?

Nilai-nilai takwa dalam shaum minimal ada 3 yang bisa dilatih dalam ibadah:

  1. Mentaati Allah dan tidak maksiat

Taat dan tidak maksiat sangat dominan dalam shaum, dimana seseorang tidak berani makan, minum atau berjimak dengan istri kecuali setelah terbenam matahari. Dengan ketaatan dan kepatuhan yang tinggi kita jaga aturan tersebut, meskipun dengan mengorbankan keinginan hawa nafsu.

Diantara tujuan shaum adalah meningkatnya ketaatan dan kepatuhan kepada Allah ta’ala, tidak hanya dalam melaksanakan ibadah tersebut, namun juga ibadah-ibadah yang lain. Sehingga diharapkan pasca shaum seseorang berada pada level saabiquun yaitu orang-orang yang senantiasa bersegera menyambut perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan-Nya.

  1. Ingat Allah dan tidak lupa

Mengapa nilai tersebut ada dalam ibadah shaum? Karena sesungguhnya orang yang shaum sedang berlatih untuk selalu mengingat Allah ta’ala, dia tinggalkan makan, minum, dan hal-hal yang mubah karena Allah ta’ala. Sehingga saat dia ingin membatalkan shaumnya dia teringat bahwa Allah ta’ala ada, melihat dan mendengarnya.

Dia selalu ingat hanya Allah ta’ala lah yang akan membalas ibadahnya, maka dia bertahan dan bersabar menahan segala tantangan dan ujian dalam shaumnya.

Bila seseorang yang shaum terlatih untuk selalu mengingat Allah ta’ala dan tidak lupa kepada-Nya, maka sesungguhnya dia akan menjadi hamba yang bertakwa, karena hanya dengan mengingat Allah sajalah seseorang akan termotivasi untuk Istiqomah dalam melaksanakan perintah Allah ta’ala dan menjauhinya laranganNya.

  1. Bersyukur dan tidak kufur (ingkar)

Ketika shaum kita pasti merasakan lapar dan haus seperti yang dirasakan oleh kebanyakan orang, karena tidak ada makanan dan minuman. Bila lapar dan dahaga yang dirasakan terbatas hanya beberapa jam saja, ada sebagian orang kelaparan dan kehausan hingga berhari-hari.

Sedikit dari persamaan tersebut akan menumbuhkan rasa syukur kepada Allah ta’ala. Nilai syukur inilah yang mendorong seseorang senantiasa optimis dan berbaik sangka saat menjalani kehidupan.

Apapun keadaan yang dihadapinya, saat ia yakin ada orang yang lebih berkekurangan darinya, maka dia akan menilai setiap karunia yang Allah berikan kepadanya sangat besar. Seseorang seharusnya tidak melihat bentuk karunia terebut, akan tetapi dari keagungan dan kebesaran Allah ta’ala yang Maha mengkaruniai. Hal ini akan menciptakan rasa cinta dan ridanya kepada Allah ta’ala yang semakin kuat.

Hamba yang bersyukur kepada Allah ta’ala akan senantiasa menjaga dan meningkatkan ketakwaannya, karena dia sadar bahwa begitu banyak karunia Allah kepadanya yang tidak akan pernah terbalas oleh ketakwaannya. Karena pada dasarnya seseorang harus sadar bahwa Allah ta’ala tidak butuh dengan ketakwaannya, namun dia yakin bahwa Allah akan memuliakannya dengan ketakwaan tersebut.

Jadikan Ramadan kali ini berbeda dengan tahun sebelumnya, dengan menanamkan nilai-nilai takwa dalam shaum yang dilakukan. Semoga Allah ta’ala menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang bertakwa, aamiin.

Penulis: Ustad Ridwan Nursalam, Lc., M.A.
(Kandidat Doktor, Bidang Aqidah & Pemikiran Kontemporer, King Saud University, Riyadh, KSA.
Editor: Sinta Kasim

You may also like

Leave a Comment